Home / RESENSI / BUKU / Dari Gandhi ke Bunda Theresa tentang Dunia Anna

Dari Gandhi ke Bunda Theresa tentang Dunia Anna

Dari Gandhi ke Bunda Theresa tentang Dunia Anna

Peresensi Nizar Sodiq

 

Judul Buku                         : Dunia Anna

Penulis                                 : Jostein Gaarder

Penerjemah                       : Irwan Syahrir

Tebal                                     : 244 halaman

Penerbit/cetakan            : Mizan/Cetakan II, November 2014

ISBN                                      : 978-979-433-842-1

 

“Sebenarnya kekayaan alam yang kita miliki, cukup untuk menghidupi seluruh umat manusia, tetapi tidak mencukupi bagi satu orang yang serakah”, begitulah ucap Gandhi. Memang kutipan Gandhi ini tidak ditemukan dalam novel Dunia Anna, tapi bukanlah berlebihan bila kita kembali mengingat kata-kata Gandhi tersebut dan merenunginya seiring melahap habis novel ini. Keserakahan manusia untuk mengeksploitasi alam yang dilakukan sebagian kecil saja dari umat manusia membawa dampak pada seluruh umat manusia lainnya, bahkan generasi-generasi berikutnya.  Mengenai kekayaan alam yang terlalui di-eksploitasi Gaarder memunculkan banyak sepanjang kisahnya, salah satunya,  “ Minyak bumi telah menjadi bencana buat negaraku. Kami menjadi kaya dengan cepat, tapi sekarang kami malah jadi miskin. Bagaimana bisa tetap kaya kalau kami tidak punya negara yang dapat ditinggali?” (hlm 77)

Jika Dalam Novel Dunia Sophie ada tokoh utama remaja yang bernama Sophie Amundsend, kali ini Jostein Garder Menggunakan pola yang sama, yaitu: Anna Nyrud, tokoh utama dalam Dunia Anna. Dia Seorang anak yang punya kepedulian yang tinggi terhadap kondisi lingkungan, juga imajinasi yang kuat. Anna mempunyai harapan yang besar untuk menyelamatkan alam demi masa depan anak cucunya. Kepekaannya akan kondisi alam ini sudah terbentuk saat ia masih berusia 10 tahun. Dikisahkan, saat itu menjelang natal  salju mulai tidak turun dan terlihat beberapa ekor rusa kutub berkeliaran di seputar perkebunan. Bagi kebanyakan orang waktu itu, hal ini tak lebih hanya sebagai bahan candaan, mungkin beberapa rusa sinterklas ada yang ketinggalan. Namun bagi Anna, hal ini sudah menjadi keresahannya.

Di usianya yang semakin bertambah, Anna memiliki pacar bernama Jonnas, dia memiliki pemikiran yang mampu mengimbangi pemikiran Anna. “Nanti pas kita ketemu, kamu harus punya jawaban bagaimana kita dapat menyelamatkan 1.001 jenis flora dan fauna dari kepunahan, ya. Kalau kamu bisa, aku cinta kamu. Kalau kamu nggak bisa, kita putusa saja!” (hlm. 107) Begitulah gaya mereka berpacaran. Contoh lainnya ide Anna untuk membaca buku yang sama berbarengan (hal. 229). Kita bisa membayangkan hubungan asmara kedua remaja ini, tidak sekedar kisah picisan  yang menye-menye, tapi lebih dari itu. Anna-Jonas melakukannya dengan bersama-sama aktif dalam memecahkan masalah kerusakan lingkungan. Diantara mereka berdua ada keresahan yang sama, tentang masa depan keselamatan bumi.

Dikisahkan, Anna mengalami sebuah mimpi, dimana dalam mimpi itu ia  sudah dalam kondisi tua. Sebagai seorang nenek dengan memakai cinci rubi yang sama, yang dipakai Anna. Saat bertemu dengan Nova yang merupakan cicitnya di tahun 2082, melalui dia, Anna menyaksikan kerusakan bumi yang semakin parah. Akibat pemanasan global, ribuan spesies binatang dan tumbuhan langka punah. Sementara di alam liar, binatang dan tumbuhan sudah kehilangan habitatnya. Kota-kota di daratan rendah dan pantai sudah tenggelam. Tidak ada lagi kepulauan Maldives dan pulau-pulau indah di Pasifik. Kawasan yang kini kita sebut sebagai Afrika Utara dan Timur Tengah sudah tidak bisa ditinggali karena terlalu panas. Orang-orang Arab pun mengendarai untanya ke utara, ke Norwegia. Bukan lagi mereka sebagai pengungsi perang atau karena kelaparan, tetapi pengungsi iklim. Semuanya karena konsumsi minyak bumi berlebihan sehingga memunculkan efek rumah kaca akibat pemanasan global, ribuan spesies binatang dan tumbuhan langka punah. Spesies- spesies yang begitu beragam di bumi hanya bisa ditemukan dalam bentuk hologram.  Bumi menjadi semacam planet yang mulai tidak layak untuk ditinggali dan sudah hilang banyak keindahannya.

Meskipun novelnya cenderung fiksi ilmiah, penuh dengan kajian-kajian sains-nya, ada beberapa hal yang agak dipakasakan, misalnya cincin rubi dan permintaan aladin. Namun segementasi dari novel ini yang merupakan novel remaja, sepertinya hal-hal yang terkesan penuh mukjizat dan ajaib ini, tepat juga untuk dimunculkan. Terlebih lagi Gaarder berhasil merangkainya dalam plot yang menarik. Plot yang dibangun Gaarder hanya berlangsung sekitar dua hari di dunia Anna, tapi dalam dua hari melompat-lompat ke berbagai masa yang berbeda.

Novel ini dibagi menjadi 38 bab yang pendek-pendek. 20 bab dengan sudut pandang Anna di masa kini, dan sisanya sudut pandang Anna sebagai Nova di tahun 2082. Perpindahan sudut pandang ditandai dengan perbedaan jenis huruf yang digunakan. Tiap perpindahan sudut pandang, Gaarder menggunakan benang penghubung lewat latar tempat. Misalnya, Nova sedang memandangi langit berbintang. Bab berikutnya, Anna juga melewati spot itu, lalu juga memandangi langit.

Melalui novelnya kali ini, Gaarder seakan mencoba menanamkan dalam benak pembaca untuk lebih peduli pada lingkungan. Mungkin akan selalu ada orang yang serakah yang ingin mengeksploitasi habis-habisan bumi ini, tapi bukan berarti kita berputus asa untuk turut menjaga kelestarian alam, karena putus asa dan pesimis merupakan tindakan amoral (Hal 228). Perlu kiranya kita juga mengingat kembali kata-kata Bunda Theresa. “Apabila engkau telah membangun sesuatu bertahun-tahun lamanya dan seseorang menghancurkannya dalam semalam. Jangan berhenti! Tetaplah membangun. Kebaikan yang engkau lakukan hari ini mungkin besok dilupakan orang. Tetapi, teruslah berbuat baik. Sadarilah bahwa semuanya itu adalah mengenai Tuhan dan kita, bukan kita dengan orang lain.”

 

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Check Also

Ayat-ayat Cinta 2

Ayat-ayat Cinta 2

Judul : Ayat-ayat Cinta 2 Penulis : Habiburahman El-Shirazy Penerbit : Republika Cetakan : III, ...

suaratangsel.com