Beranda OPINI

Fenomena Body Shaming di Media Sosial

2423
Gambar Ilustrasi (sumber: tempo.co)

“Kok gendutan sis…”, “Sekarang kamu kurus ya.” Pernahkah Anda berkata seperti itu kepada kerabat Anda? Jika pernah, sebaiknya Anda menyesal. Kalimat tersebut termasuk kategori body shaming. Anda dapat terkena hukum pidana jika pihak yang Anda komentari tidak terima dan melaporkannya ke pihak berwajib. Untuk lebih jelasnya simak pemaparan singkat tentang body shaming berikut ini.

Body shaming atau penghinaan fisik kerap kali terjadi di media sosial. Fenomena body shaming merujuk pada kritik negatif yang diberikan untuk seseorang dan melukai perasaannya. Banyak orang yang memberikan komentar negatif mengenai bentuk tubuh seseorang tanpa berpikir terlebih dahulu. Contohnya komentar tentang ukuran badan, baik itu gendut, kurus, kerempeng dan sebagainya. Jika hal tersebut melukai perasaan seseorang maka dapat disebut body shaming.

Efek yang ditimbulkan dari body shaming juga beragam. Kebanyakan korban body shaming merasa kepercayaan dirinya menurun. Selain itu, kasus body shaming di media sosial dapat menurunkan harkat dan martabat seseorang serta diketahui khalayak umum yang membuat korban menjadi malu. Selain malu korban juga merasa dicemarkan dengan komentar body shaming tersebut dan menjadi bahan bully-an.

Fenomena body shaming tidak bisa dipandang sebelah mata. Jika fenomena ini terus berlanjut maka akan mempengaruhi korban. Contohnya korban yang menerima komentar secara terus menerus mengenai bentuk tubuhnya yang gemuk akan merasa tertekan dan merasa depresi. Pada akhirnya mereka akan melakukan segala cara untuk kurus meskipun dengan diet yang berlebihan dan penggunaan pil.

Korban body shaming seakan-akan dituntut untuk mengikuti standar kecantikan yang dipasang oleh media sosial. Contohnya standar cantik yang berlaku di media sosial adalah badannyabadanny, kulitnya mulus, dan tubuhnya langsing. Korban body shaming akan melakukan berbagai cara agar memenuhi standar tersebut. Mulai dari menggunakan filter kamera sampai berdiet demi mendapatkan like di media sosial.

Namun jika menemui komentar-komentar yang mengandung unsur body shaming tidak perlu takut karena dapat langsung dilaporkan. Jika hal tersebut terjadi di sosial media maka dapat dijerat dengan Pasal 27 ayat 3 Juncto Pasal 45 ayat 3 UU ITE dengan ancaman pidana penjara paling lama empat tahun dan/atau denda maksimal Rp. 750 juta.

Fenomena ini harus kita hentikan baik di dunia maya maupun di dunia nyata. Dengan adanya UU ITE mengenai body shaming masyarakat diharapkan untuk lebih bijak dan berhati-hati dalam meninggalkan komentar. Karena efek yang ditimbulkan dari komentar negatif anda bisa jadi dapat mempengaruhi kondisi mental seseorang.

(Dikutip dari berbagai sumber)