Beranda SUARA BANTEN KOTA TANGSEL

Pentingnya Literasi Media Bagi Kaum Millenial

1340
Ilustrasi dari k12.thoughfullearning.com

Perkembangan teknologi komunikasi pasti diiringi dengan perubahan gaya hidup dan budaya dalam masyarakat. Hal ini merupakan sebuah kausalitas yang tak bisa dihindari. Dahulu manusia bertukar informasi dengan cara tatap muka langsung. Namun sekarang manusia dapat bertukar informasi dengan sekali klik di smartphone yang biasa kita kenal dengan masyarakat millenial. Informasi yang dapat di akses secara daring di ponsel pintar yang anda genggam saat ini berbagai macam rupanya, ada yang positif maupun negatif. Untuk itu perlu adanya pemahaman yang kritis untuk menyaring derasnya arus informasi pada era digital seperti saat ini.

Salah satu permasalahan saat ini adalah banjir hoaks. Hoaks disini adalah informasi yang belum jelas kebenarannya. Apalagi menjelang ajang elektoral yang akan dilaksanakan tahun depan, ada saja hoaks yang diluncurkan untuk memanaskan suasana. Parahnya lagi banyak yang termakan jebakan hoaks tersebut dan menyebabkan distorsi yang tidak diinginkan, seperti kebencian, permusuhan, dan hal merugikan lainnya. Kurangnya literasi media di masyarakat kekinian merupakan salah satu penyebabnya.

Literasi media menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah kemampuan mengakses, menganalisis, dan menciptakan informasi untuk tujuan tertentu. Tujuan yang dimaksud adalah kebenaran secara objektif dari suatu informasi. Di mana kita mendapatkan kebenaran tersebut? Tentunya melalui proses yang disebutkan sebelumnya yaitu mengakses, menganalisis dan menciptakan informasi.

Pertama, mengakses informasi dapat dilakukan di mana saja. Ada media mainstream seperti koran, radio, dan televisi yang bisa kita jumpai dengan mudah. Bisa juga lewat media sosial media seperti Instagram, Twitter, Facebook, dan lainnya. Informasi yang diakses bukanlah sembarang informasi, tetapi informasi yang jelas sumbernya.

Kedua, menganalisis informasi dengan berbagai sudut pandang. Kuncinya adalah membaca informasi tidak hanya dari satu sumber, tetapi setidaknya tiga sumber yang jelas dan kredibel. Agar jika dua sumber mengandung informasi yang bertentangan, maka sumber ketiga adalah sebagai penengah. Hal ini perlu dilakukan untuk menghindari bias informasi yang sering terjadi.

Setelah mengakses informasi dan menganalisisnya secara objektif, selanjutnya adalah menciptakan informasi sesuai dengan kebenaran yang kita temukan. Informasi yang kita reproduksi tentunya bukan maksud untuk menyalahkan, memprovokasi, atau menjatuhkan orang lain. Tetapi dengan maksud menyadarkan tentang informasi yang sebenarnya terjadi untuk menegasi hoaks yang tersebar.

Untuk itu, tingkat kesadaran terhadap informasi harus dilatih sejak dini. Agar generasi millenial tidak hanya cakap dalam bersosial media, tetapi juga mahir dalam mengolah informasi. Menangkal hoaks bukan hanya tugas pemerintah dan otoritas, masyarakat millenial juga berhak untuk memberantas hoaks yang mengancam keutuhan bangsa!

Ditulis oleh :

Wildan Aulia Rahman
Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam
Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta