Beranda TOPIK UTAMA NASIONAL

Cetakan Pertama Buku “Banjir Darah” Ludes Hanya dalam Hitungan Jam

1046

Jakarta, SUARA TANGSEL – Di tengah ramainya polemik tentang RUU HIP/BPIP yang membuat banyak pihak mencurigai ada anasir muatan semangat komunisme di dalam RUU tersebut. Penerbit Istanbul Solo justru menerbitkan sebuah buku dengan judul BANJIR DARAH (Kisah Nyata Aksi PKI terhadap Kiai, Santri, dan Kaum Muslimin) yang ditulis oleh Anab Afifi dan Thowaf Zuharon.    

Menurut perwakilan penerbit Istanbul, buku tersebut merupakan sejarah yang selama ini ditutup-tutupi dan diingkari, kemudian dicoba dikuak kembali melalui sebuah buku yang mengangkat fakta sejarah kekejaman Partai Komunis Indonesia (PKI) terhadap Kiai, Santri, Kaum Muslimin, dan mereka yang dibenci oleh PKI. 

“Buku ini disusun berdasarkan hasil wawancara para saksi hidup dan pelaku sejarah, ditulis dengan narasi yang hidup dan memikat, yang mampu menyedot emosi pembaca, seolah ikut menyaksikan peristiwa itu,” jelas Bambang Soekirno, Direktur Utama penerbit Istanbul, di Solo, pada akhir pekan pertama Agustus 2020 lalu.  

Bambang sendiri tidak menyangka, buku “Banjir Darah” mendapatkan respons yang sangat luar biasa dari para khalayak pencinta buku dan sejarah di Indonesia. Sebelum buku ini turun cetak pada pekan pertama Agustus 2020, buku “Banjir Darah” sudah menjadi perbincangan cukup hangat di berbagai lini masa media sosial maupun WhatsApp.

Para konsumen buku, para reseller buku, para distributor buku yang memasarkan buku secara digital, sangat riuh menghubungi penerbit Istanbul dan memesan jauh-jauh hari sebelum buku “Banjir Darah” turun cetak.

“Seorang reseller millenial datang memborong buku “Banjir Darah”. Tidak tanggung-tangung. Reseller tersebut membawa truk untuk membeli dan mengangkut buku “Banjir Darah” dalam jumlah yang sangat besar. Penerbit tak kuasa menolak. Karena dia membawa uang cash,” kata Mustarom, Direktur Marketing penerbit Istanbul.

Padahal, menurut pantauan Mustarom, masih banyak sekali konsumen maupun reseller yang juga akan membeli buku ini secara cash. 

“Saya bingung membagi. Sebab banjir pesanan. Jumlah pemesan buku melebihi jumlah eksemplar yang dicetak. Jam 15 sore baru akan turun cetak, jam 11 siang sudah habis dipesan. Bahkan, para pemesan ada yang harus mengantri hingga tanggal 10 Agustus 2020 mendatang,” kata Mustarom.

Tak pelak, penerbit Istanbul harus menghentikan mesin cetak lain, demi mendahulukan pencetakan buku Banjir Darah yang sudah diantri oleh berbagai pembaca dari Sabang hingga Merauke. Percetakan pun dipaksa melipatgankan mesin yang bekerja khusus untuk buku ini.

Hasilnya,  buku ini akan siap didistribusikan kepada pemesan mulai tanggal 10 Agustus 2020.

Sesuai jadwal. Malam demi malam, penerbit terus sibuk melakukan packing buku untuk pengiriman.

Banjirnya pesanan atas buku “Banjir Darah” ini baru melalui jalur perdagangan buku online maupun sosial media. Sama sekali belum menyentuh perdagangan di toko buku maupun perdagangan buku konvensional.

“Kami sudah sangat kewalahan memenuhi pesanan dari Sumatra hingga Papua. Ludes dalam hitungan jam. Yang heran, justru banyak sekali pesanan buku “Banjir Darah” dari luar Pulau Jawa,” jelas Mustarom. (1st/*)