Beranda TOPIK UTAMA POLITIK

Pengamat: Jokowi Gak akan Turun ke Tangsel untuk Cawi-cawi Pilkada

251

Jakarta, SUARA TANGSEL – Kontestasi politik yang memerebutkan kursi nomor satu dan dua di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) pada Desember mendatang, semakin ketat.

Sampai saat ini sudah ada tiga pasangan calon yang menyatakan akan maju pada Pilkada Tangsel dengan dukungan dari partai-partai besar.

Benyamin Davnie – Pilar Saga Ichsan misalnya, pasangan ini mendapat dukungan dari Partai Golkar dan Partai Persatuan Pembangunan.

Kemudian, Muhamad – Rahayu Saraswati Djojohadikusumo atau Saraswati, mendapat rekomendasi dari Partai Gerindra dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P).

Dan, Siti Nur Azizah – Ruhamaben, pasangan ini mendapat rekomendasi dari Partai Demokrat dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).   

Ketiga pasangan calon tersebut secara politik juga merepresentasikan dukungan dari keluarga terdekatnya, Benyamin – Pilar representasi keluarga Airin.  Lalu, Siti Nur Azizah Ma’ruf-Ruhamaben representasi keluarga Wapres KH Ma”ruf Amin. Berikutnya, Muhamad-Rahayu Saraswati, dimana Sara adalah keponakan Menhan Prabowo Subianto.

Adalah menarik untuk dicermati, apakah dengan komposisi partai pendukung dan patron – klien keluarga terhadap ketiga pasangan calon tersebut akan memengahui elektabilitas atau keterpilihan dari ketiganya di hari “H” pelaksanaan Pilkada Tangsel pada, 9 Desember 2020 nanti?

Menurut Direktur Lembaga Survei Indonesia, Sapraji, kemungkinannya sangat tipis, dukungan partai besar dan potron-klien keluarga besar tak selalu mendatangkan popularitas dan elektabilitas pasangan calon.

Apalagi sampai ada analisa yang mengait-ngaitkannya dengan dukungan Presiden Jokowi kepada salah satu pasangan calon.

“Nggaklah, Pak Presiden gak akan sampai turun tangan ke Tangsel untuk cawi-cawi Pilkada. Mendukung anaknya wapres gak akan enaklah sama Pak Menhan, saat yang sama juga keponakan Bu Airin nyalon jadi gak akan enak hati juga sama Bu Airin. Pak Jokowi sama Bu Airin itu juga bersahabat. Jadi saya kira pertarungan akan berlangsung bebas, siapa dapat simpati pemilih, dia akan menang,” ujarnya saat dihubungi ST.com, Senin (27/7).

Sapraji menjelaskan, kemenangan di Pilkada itu utamanya didapat dari kampanye panjang, dari kerja taktis berdasar strategi yang jitu. Tidak bisa ada orang datang ke satu daerah lalu berkampanye  sebentar dan menang. Akan butuh proses panjang sejak pengenalan, peningkatan popularitas, menguji akseptabilitas dan tentu meraih elektabilitas.

“Pilkada itu tidak sederhana. Bukan datang terus pasang-pasang spanduk dan buat iklan di sosial media lalu yakin menang. Sudah banyak korban pilkada itu, kan lebih banyak yang kalah daripada yang menang. Apalagi ini di Tangsel, medan yang komplit. Pemilih emosionalnya banyak, pemilih rasionalnya juga berisik,” katanya.

Sapraji menilai, sisa waktu lima bulan ke pencoblosan harus dimanfaatkan kontestan untuk turun menyapa warga. Hanya kondisi pandemik corona memang harus membuat tim pemenangan bekerja ekstra, harus kreatif dan inovatif. Masih memakai cara lama di era adaptasi kebiasaan baru akan membuat kontestan tersungkur dan jadi pengalaman kalah.

“Kontestan harus bekerja di atas dan di bawah. Pertama dan utama harus dikenal dan disukai lalu diterima dengan tangan terbuka sehingga bisa dipilih. Kondisi sekarang ini saya kira petahana diuntungkan, kalau bisa memanfaatkan momentum dengan baik, saya rasa Benyamin Davnie akan menang,” pungkasnya. (1st/DN/HA)