Beranda RESENSI BUKU

Kebohongan Di Balik Klenik

125

Ketika_Bunga_Cengkih_Bersemi

Judul Buku                  :  Ketika Bunga Cengkih Bersemi

Penulis                         :  Eko Hartono

Penerbit                       :  CV Smartmomways

Terbit                           :  2014

Tebal Buku                  :  iv + 60 halaman

ISBN                           :  978-602-71361-1-3

Peresensi                     : Linda Satibi

Kepercayaan masyarakat terhadap klenik masih kuat, terutama di wilayah pedesaan. Hal-hal gaib yang beraroma mistis menjadi bagian dari kehidupan mereka. Kejadian atau peristiwa yang tampak aneh akan langsung dikaitkan dengan kepercayaan pada klenik, tanpa analisa yang mengedepankan pemikiran logis.

Buku “Ketika Bunga Cengkih Bersemi” membidik masalah itu. Lastri, gadis desa yang lugu, mengalami pergulatan hidup yang cukup berat. Kehidupan ekonominya suram dengan kondisi status pernikahan yang tidak jelas. Suaminya, Marsudi, pergi lima tahun lalu saat buah hati mereka belum lagi satu tahun usianya. Untuk menyambung hidup, Lastri bekerja sebagai kuli di perkebunan cengkih milik Haji Mardi, orang terkaya dan terpandang di desanya.

Masalah timbul saat Wulan, putri Lastri, kerap terserang penyakit ‘aneh’, ketika usianya menginjak lima tahun. Tiba-tiba badannya panas dan kejang-kejang. Orang-orang mulai bergunjing tentang diri Lastri. Kasak-kusuk yang berkembang menyebut Marsudi pergi meninggalkan keluarganya karena kecewa pada Lastri. Konon dia telah dibohongi Lastri yang sudah tidak perawan. Wulan pun sering diolok-olok temannya, bahwa ia adalah anak jin. Dan bapaknya minggat karena tak mau mengakuinya sebagai anak.

Pohon beringin besar tempat Wulan sering bermain di bawahnya, langsung dituding sebagai faktor pencetus sakitnya Wulan. Karena pohon itu dianggap keramat dan angker. Padahal Wulan bermain di sana karena bosan terus menerus berada di areal perkebunan cengkih menunggui ibunya bekerja.

Bagaimana selanjutnya perjuangan Lastri, akan ditemui dalam buku berjumlah 60 halaman ini. Memang bukunya tipis, tapi ukurannya agak besar.

Konflik yang berkembang di awal, ternyata menyimpan kejutan di akhir. Ada kisah yang tak terduga yang terjadi pada Lastri. Meski sedikit aneh, tapi bukan tidak mungkin memang di daerah pedesaan, hal tersebut bisa terjadi.

Ada beberapa konflik yang sepertinya bisa lebih dikembangkan sehingga cerita akan lebih menarik dan tidak terlalu singkat. Semisal tentang sakitnya Wulan, lalu hubungan Lastri dengan kakak yang sangat melindunginya, Masriani. Begitu pun setting, bisa lebih dieksplorasi sehingga akan menambah kekuatan cerita. Areal perkebunan cengkih akan lebih hidup bila dipaparkan dengan deskripsi yang detil dan cantik.

Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, cerita ini cukup menarik dan berhikmah. Betapa kesabaran memang akan berbuah manis pada akhirnya. Dan perjuangan yang berat bila dijalani dengan senantiasa melakukan kebaikan, maka kebaikan itu akan kembali kepada diri kita. Selain itu, skenario sebuah kebohongan, tidak akan maslahat dan tidak membawa pada ketenangan. Kejujuran tetap lebih baik. Apalagi bila itu berdasar pada egoisme, demi memenuhi keinginan pribadi. Berlimpahnya materi bukan merupakan andalan untuk meraih kebahagiaan. Karena kebahagiaan hakiki berasal dari hati yang tenang dan ikhlas.

Selamat membaca!

(Peresensi : Linda Satibi, penulis, guru SMP)