Beranda PROFIL

Zaki, Pedagang Terompet Serak

704

Ciputat, SUARA TANGSEL – Perayaan Tahun Baru 2016 telah empat hari yang lalu. Perayaan tahun baru ini masih menyisakan cerita bagi para pedagang terompet, seperti Zaki. Zaki, pedagang terompet tahun baru merasakan 2 tahun terakhir ini, usaha dagang terompet tidak memberikan untung.

Penghasilan pedagang terompet kini tidak lagi senyaring bunyi terompet. Perajin industri rumahan terompet dari Kelurahan Tanah Tinggi, Kota Kota Tangerang dan Pandeglang mengalami hal serupa.   Zaki (34), salah seorang pedagang asal Pandeglang yang buka lapak terompet seberang pasar Ciputat mengaku, Semenjak bulan Oktober,   Zaki bersama istrinya telah membuat terompet. Zaki, yang sehari – harinya bekerja sebagai penggali sumur, membuat teropet hingga larut malam.

Saat ditanya ST, bahan pembuatan terompet didapat dari mana, Zaki menjawab, “ mudah mas, saya sudah ngumpulin kertas dan karton bekas semenjak Bulan Juni,” kata Zaki. Sehari, Zaki bisa membuat 110 terompet kecil. Dikatakan, untuk membuka usaha ini tidak membuthkan modal besar. Pasalnya, bahan baku terompet-terompet hasil kerajinannya ini, sebagian besar merupakan kertas limbah yang sengaja di manfaatkan olehnya.
“Modalnya dikit, karena terompet kertas ini bahan bakunya dari limbah yang saya daur ulang,”

Terompet hasil tangannya, teman pedagang terompet yang lain, membawanya ke Serang dan Jakarta. Untuk sesama pedagang, Zaki menjual terompet kecil seharga Rp1.200 dan yang besar Rp2.000. “ Tergantung kesulitannya juga, makin besar dan makin sulit pasti lebih mahal.   Kalo terompet kecil, sudah dibawa ke Jakarta dan Ciputat, dijual ke pembeli Rp5.000 sampai

Rp7. 000,” kata Zaki penuh semangat.

Untuk tahun baru 2016 ini, telah sepuluh hari, Zaki berada di Jakarta.” Kemaren di Kebayoran Baru   kirim terompet, sekarang di Ciputat. Pas malam tahun baru, saya dagang terompet di BSD dan Bintaro. Pan disitu kalo tahun baru paling rame,” kata Zaki.

Seminggu menjelang perayaan tahun baru terompet miliknya sudah lumayan terjual banyak. Menurutnya, penjualan akan laris manis biasanya setiap menjelang hari H malam pergantian tahun baru.

Kendati begitu, mata Zaki tampak menerawang saat ditanya keuntungan,”saya aza gak ngerti udah tiga tahun ini jualan terompet banyak gak kejual, gak bisa untung hanya balikin modal aja udah bagus,” kata Zaki.

“ Kayak tahun kemaren, udah dagang terompet sambil ditiup –tiup ampe serak belum ada yang beli,” tambah Zaki.   “ Semoga pas malam tahun baru jangan hujan,” kata Zaki penuh harap.
Zaki tidak menaruh harapan lagi pada perayaan tahun baru.”Usaha terompet sekarang susah. Sudah susah bikin terompet, tapi banyak yang tak laku,” cetus Zaki.

Kendati tak begitu menjanjikan, masih banyak perajin terompet yang nekad jualan. Sepekan memasuki tahun baru, mereka mulai berbondong-bondong laksana kunang –kunang menyerbu gemerlap kota. (GN)