Beranda SUARA WARGA

Warga Tetap Menolak Keras Jika Penginapan My Home Dibuka Kembali

464
Musyawarah warga Kampung Dongkal RW 05 Pondok Jagung Timur, Serpong Utara, Kota Tangerang Selatan, terkait dengan perizinan tempat penginapan My Home yang dinilai sudah meresahkan warga, acara yang dihadiri langsung oleh Erwin selaku pemilik My Home (kiri) Jodi Kurniawan Ketua RW 05 (tengah) Bapak Lepay tokoh masyarakat (kanan) pada Senin malam (8/6)

Serpong Utara, SUARA TANGSEL – Musyawarah yang dilakukan warga Kampung Dongkal RW 05 terkait perizinan tempat penginapan My Home yang ada di Jalan Raya Bhayangkara, Serpong Utara, Kota Tangerang Selatan (Tangsel) menemukan titik terang.

Musyawarah yang berlangsung dirumah salah satu warga, yang dihadiri langsung oleh Erwin selaku pemilik penginapan My Home sekaligus sebagai pihak pemohon, dan disaksikan juga oleh Ketua RW, tokoh masyarakat dan tokoh pemuda dari lingkungan RW 05 pada Senin malam (8/6/2020) pukul 19.30 WIB.

Adapun masalah yang dibahas dalam musyawarah ini adalah mengenai perizinan lingkungan terkait dengan tempat usaha penginapan My Home yang saat ini dinilai oleh warga sudah sangat meresahkan untuk lingkungan sekitar karena telah disalahgunakan untuk tempat mesum.

Diketahui, tempat penginapan My Home telah disegel oleh Satpol PP kota Tangsel sejak tanggal 6 Mei yang lalu karena terkendala dengan masalah izin.

Jodi Kurniawan selaku Ketua RW 05 mengatakan, dirinya menyerahkan sepenuhnya masalah ini kepada masyarakat sekitar tentang diberi izin atau tidaknya jika tempat penginapan My Home harus dibuka kembali.

“Semua keputusan ada di masyarakat, saya hanya sebatas mediator saja untuk menampung segala aspirasi masyarakat,” kata Jodi.

Bapak Lepay selaku tokoh masyarakat yang ada dilingkungan tersebut angkat bicara soal masalah ini. Dirinya menjelaskan kepada pihak My Home, jika memang mau bikin usaha di wilayah orang, bikinlah usaha yang baik, jangan bikin usaha yang macam-macam.

“Pengusaha harus ada kontribusinya juga kepada lingkungan atau warga sekitar, jangan hanya sekedar numpang usaha saja tapi tidak ada yang diberikan kepada warga sekitar,” ujar Bapak Lepay tokoh masyarakat.

Erwin pemilik My Home pun diberi kesempatan berbicara dan mengutarakan penyesalannya terkait kesalahan yang telah dilakukannya, dirinya juga meminta maaf dan memohon agar masyarakat bisa memberikan kesempatan yang kedua kalinya.

Ia juga berjanji kepada masyarakat untuk tidak mengulangi kesalahannya lagi dan tidak akan membuka lagi tempat penginapan My Home menjadi tempat penginapan dengan sewa harian seperti yang terjadi saat ini.

“Saya berharap kepada masyarakat bisa memberi kesempatan kepada saya untuk yang kedua, dan saya juga berjanji tidak akan mengulangi kesalahan saya, saya khilaf,” tutur Erwin.

“Jika saya masih mengulangi kesalahan saya, atau ada masyarakat yang masih menemukan hal-hal yang melanggar lagi itu terserah, saya pasrah,” sambungnya.

Namun semua permohonan Erwin dibantah keras dan tidak disetujui oleh masyarakat sekitar.

Masyarakat tetap meminta agar tempat penginapan tersebut ditutup karena pihak pemilik sudah menyalaguakan izin, dari izin bulanan menjadi izin harian dan dijadikan tempat untuk prostitusi, tentu hal ini sangat berdampak buruk bagi lingkungan sekitar.

“Tutup, atau tempat tersebut dikembalikan lagi ke awal sebagai bangunan Ruko bukan sebagai tempat penginapan,” tegas Giman warga RT 05.

“Jika masih mau buka, sebaiknya tempat tersebut dialih fungsikan sebagai tempat usaha yang lain, seperti Cafe atau rumah makan,” pungkasnya.

Mendengar keputusan yang diambil dari hasil musyawarah bersama masyarakat, Erwin harus pasrah dan harus berlapang dada jika tempat usaha penginapannya harus ditutup dan tidak boleh dibuka lagi.

Penulis : Muhamad Deni