Home / OPINI / Taneuh Weuteuh
taneuh-weuteuh

Taneuh Weuteuh

Musibah kian sering terjadi di wilayah pegunungan di daerah Lebak. Sesepuh Baduy Dalam, Jaro Nalim, pernah bercerita, sekarang kalau hujan lebat banyak longsor, dan jika hujan tidak turun dua hari saja tanah cepat kering. “Tanah kita sudah mulai kehilangan sari,” katanya.

Tanah jadi gak lengket, dan gak kuat. Menurut sesepuh Baduy tersebut, ini karena sudah mulai penyedotan minyak di wilayah Blok Rangkas ( Rangkas Block) yang dikuasai Swedia dan Australia, dan penggalian emas di sepanjang dan seluas Gunung  Halimun yang merupakan hutan titipan ( hutan yangg tak boleh dirusak).

Para leluhur di sana menyebutnya sebagai “Taneuh Weuteuh”.

Yakni, tanah yang subur dan kaya sumber daya alam, yang masih utuh, akan tetapi bakal ramai di masa depan.

Sekarang ribuan tenaga kerja China sudah ada di sana di pabrik semen Merah Putih dan Pelabuhan China (China Harbour) di dekat pantai Sawarna.

China akan masuk ke wilayah Nusantara diantaranya lewat pintu  pantai Bayah yang menghadap langsung ke laut lepas Samudera Hindia.

Sekarang  mereka sudah membangun infrastruktur pelabuhan sendiri, China Harbour.

Pantai Sawarna yang menurut para turis asing seperti Hawai, bahkan mereka menyebutnya ” syurga tersembunyi”, kini sudah mulai terganggu dengan kehadiran China Harbour, dan ditambah lagi dengan pihak Korea Selatan yang sudah memiliki luas tanah hampir 3000 ha di kawasan Pantai Sawarna.

Rencananya Korea akan menguasai sampai 6000 ha, untuk lokasi obyek wisata dan penampungan kaum manula Korea.

Para leluhur yang saya temui di sekitar Gunung Halimun, menyebut di bawah gunung lokasi pabrik semen merah putih, dulu adalah penambangan emas terbesar yang dikelola Jepang. Dari bawah gunung itu ada terowongan  rel kereta hingga menembus ke dekat pantai Karang Taraje, sekitar Sawarna. Dari sana emas diangkut lewat laut ke Jepang

Ketika sekutu datang untuk mengambil dan menguasai lokasi tambang, Jepang membom lokasi tersebut hingga  berton ton emas batangan terkubur.

Ada dugaan pabrik semen tersebut sbagai kamuflase, yang sesungguhnya mengambil emas.

Seperti halntya AS di Freeport, bilangnya mengambil tembaga, padahal emas dan uranium.

Nusantara akan kembali menjadi pusat konflik dunia karena masih memiliki cadangan sumber pangan dan air.

Nusantara adalah “Taneuh Weuteuh”, ” Cenceelengan Pangeran ” ( Tabungan Tuhan) yang harus tetap terjaga.

Jadi tugas kita selanjutnya pasca 212 dan 412, adalah menjaga Nusantara ( Banten) dari ancaman imperialis baru yang bersekongkol dengan pejabat-pejabat korup.

Jangan lagi saling mempersoalkan kadar dan kualitas keimanan dan keislaman diantara kita.

Wassalam.

Serpong, 6 Des 2016

Penulis: Uten Sutendy

Check Also

Kinkin Mulyati Dakwah dan Novelis

Pemimpin Agama Atau Pelayan Masyarakat (Dalam Perspektif Hukum)

Bagikan melalui WhatsAppAkhir-akhir ini banyak sekali wacana dalam masyarakat terutama di media sosial, yang menyebutkan ...

suaratangsel.com