Beranda PENDIDIKAN

SOS : SAVE OUR SCHOOL SMUN 55 JAKARTA!

134
Please. SOS : SAVE OUR SCHOOL 55!

Jakarta, SUARA TANGSEL – Chelvia Ch Meizar adalah salah seorang Alumni Sekolah Menengah Umum Negeri (SMUN) 55 di Duren Tiga, Jakarta Selatan, yang sangat bangga dengan sekolahnya.  Sayang, kebanggaannya itu  berubah menjadi pilu dan miris  saat Ia melihat sekolahnya yang kini hancur, dan mangkrak selama lebih dari dua tahun, akibat proyek renovasi yang seharusnya membuat sekolah ini menjadi semakin  indah, justru makin hancur  dan kini hanya berwujud tiang-tiang pancang. Benar-benar terbengkalai, tulis Chelvia dalam petisi Change org Indonesia yang ditujukan kepada Gubernur DKI Jakarta, Basuki T. Purnama, DPRD DKI Jakarta, dan Dispendik DKI Jakarta.

“Akibatnya, sejak Juli 2013 kegiatan belajar mengajar berpindah tempat. adik-adik kami, para siswa tidak lagi belajar di SMAN 55 yang berlokasi di Duren Tiga, melainkan  menumpang di SDN Pengadegan 01 dan SDN Pengadegan 03.”  Kata Alumni SMUN 55 ini.

Tentu saja, karena numpang, aktivitas dan kegiatan belajar mengajar tidak leluasa. Saat pagi, sekolah tersebut digunakan untuk siswa SDN Pengadegan 01 dan SDN Pengadegan 03 Jakarta Selatan. Siang atau mulai pukul 13.00–17.30 dimanfaatkan siswa SMAN 55  kelas 10 untuk belajar. Dan  karena waktu mepet, jam pelajaran juga harus dipersingkat. Jika satu jam mata pelajaran idealnya butuh 45 menit, waktu belajar diperpendek menjadi 35 menit. Kalau dipaksa 45 menit, siswa bisa pulang pukul tujuh atau delapan malam.

Sementara siswa kelas 11 dan 12 numpang belajar di STIE Tunas Nusantara saat pagi. Untuk bisa belajar di kampus itu, pihaknya harus menyewa Rp 500 juta per tahun. Dan dana sewa itu berasal dari urunan orang tua karena mereka berkeberatan anaknya masuk siang di sekolah dasar.

Dana sewa tersebut tidak bisa diambilkan dari dana biaya operasional pendidikan (BOP) dan bantuan operasional sekolah (BOS). Sebab, dalam pertanggungjawaban BOP dan BOS, tidak ada alokasi untuk menyewa gedung.

“Yang makin mengkhawatirkan saya,  dan saya yakin, kepala sekolah, para guru, alumni dan terutama para siswa sendiri — dengan terjadinya ketegangan politik yang berlarut-larut  berkaitan tentang APBD 2015 antara Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama (Ahok) dan bapak-bapak yang terhormat Anggota DPRD,  maka akan  makin merana pula nasib program pembangunan di ibu kota. Termasuk proyek rehab sekolah-sekolah rusak. DIantaranya adalah sekolah kami, SMUN 55.” Keluh Chelvia penggas petisi Save Our School 55 ini.

Untuk itulah, saya mengajukan petisi ini kata Chelvia . Ia pun meminta bantuan dari rekan-rekannya sesame Alumni SMUN 55, para penandatangan petisi, dan warga Jakarta umumnya untuk bersama-sama  menggugah hati nurani pemimpin daerah, Gubernur DKI Jakarta dan Wakil Gubernur, Anggota DPRD DKI Jakarta untuk  kembali memperhatikan pembangunan sekolah SMUN 55 yang mangkrak. “Pembangunan ini penting  untuk menunjang proses belajar mengajar adik-adik kami yang saat ini sangat membutuhkan tempat dan fasilitas memadai. Terutama kenyaman, ketenangan … termasuk juga untuk para guru yang mengajar. Please, SOS : SAVE OUR SCHOOL 55!” Pungkas Chelvia di akhir petisinya. []ris/change.org