Beranda TOP TANGSEL

Sewindu Rumah dan Kota Kita: ‘Fenomena’ Martinah dan Silpa Anggaran 2016

45
logo-hut-tangsel

Aria Putra, SUARA TANGSEL – “Sewindu Semakin Maju” itulah tagline dalam perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke 8 kota Tangerang Selatan (Tangsel), 26 November 2016.

Rangkaian acara telah dipersiapan untuk memeriahkan perayaan ulang tahun dari kota yang  secara resmi memisahkan diri dari induk semangnya kabupaten Tangerang, pada 8 tahun silam.

Ternyata ditengah kemeriahan dan semarak perayaan HUT ke 8 Tangsel itu masih ada persoalan yang secara kasat mata terlihat dan menjadi bagian yang sulit untuk dipungkiri, yakni penderitaan seorang Martinah, janda tua (61) sebatang kara, tinggal di Rt 05/Rw 04 kelurahan Pondok Benda, kecamatan Pamulang, kota Tangsel.

Meski memiliki seorang anak, Martinah lebih memilih tinggal sendiri disebuah gubuk tidak layak huni, berukuran sekitar 2 x 5 meter, yang disekat dua. Sekat pertama digunakan untuk kamar mandi berukuran 1 x 1 meter, dan sekat kedua digunakan untuk dapur dan kamar tidur.

Gubuk reot milik Martinah ini memang jauh dari layaknya sebuah tempat tinggal. Gubuk tersebut menempel pada bangunan induk milik salah seorang warga, yang tanah dan rumahnya sudah dijual kepada salah satu perusahaan pengembang property di kota ini.

Dinding gubuk terbuat dari seng bekas, dengan atap dari bahan matrial seadanya, dimana ketika turun hujan, seisi ruang gubuk kebocoran, sementara bagian lantainya lebih tak jelas lagi, sebagian ada yang tanah, sebagian lagi merupakan sisa puing-puing bangunan, sebagiannya lagi plesteran kasar seadanya.

Ditemui suaratangsel.com di gubuknya, pada Sabtu (26/11), Martina berusaha menceritakan sepenggal kisah hidup yang dialaminya. Ternyata, rumah dan harta bendanya yang pernah ia miliki sudah habis terjual untuk biaya berobat suaminya yang sakit keras. Namun, takdir berkata lain, tahun 2002 suaminya dipanggil pulang kehariban Ilahi, kala itu anaknya baru berusia 4 tahun.

“Rumah saya, sudah saya jual untuk biaya berobat suami saya yang sakit keras, tapi takdir berkata lain. Suami saya harus meninggalkan dunia yang fana ini pada tahun 2002, saat itu anak saya masih berumur 4 tahun, dan sejak saat itulah saya mulai merajut hidup dengan keadaan seperti sekarang ini, ” tuturnya, sambil berurai air mata.

Sementara itu, untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya, Martinah harus bekerja secara serabutan, mulai dari menjadi kuli cuci, hingga bantu-bantu para tetangga sekitar yang membutuhkan tenaganya.

“Sudah sekitar setahun lebih dia tinggal di sini, kesehariannya ya.. dia bantu-bantu tetangga sekitar, atau pun kenalan-kenalannya, sepeti mencuci, masak atau pun ada pekerjaan lainnya,” ujar salah seorang etangga Martinah di lingkungan Rw 04.

Menyikapi pemasalahan sosial di wilayahnya, Ketua Rw 04, Mursid, dari pengakuannya, menyampaikan kalau ia telah melaporkan kepada pihak Kelurahan dan Dinas terkait untuk menolong Martinah.

“Saya sangat prihatin dengan keadaannya, dimana untuk tempat tinggal saja dia harus menempel sana sini, selain itu sumber penghidupannya tidak jelas, saya pernah mendiskusikan masalah ini ke Kelurahan, lalu pihak kelurahan pun menyuruh saya untuk ke Dinas Sosial, Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans), dan saya juga meleporkan secara langsung ke Dinsosnakertrans, setelah seminggu ini, belum ada tindak lanjutnya,” kata Mursid, saat ditemui di kediamannya, tak jauh dari tempat Martinah tinggal.

Sebagai pengurus lingkungan, Mursid menaruh harapan besar agar pemerintah melalui Dinas terkait dapat membantu memberikan solusi atau jalan keluar, karena menurutnya, selaku ketua lingkungan Rw serta para tetangga sekitar, memang memiliki keterbatasan dalam membantu Martinah.

“Harapan saya, laporan saya dapat segera direalisasikan, dalam bentuk perhatian terhadap warga  yang seperti ini keadaannya, setidaknya ada perhatian lebih terhadap yang bersangkutan,” harap Mursid.

Martinah adalah sebuah fenome kehidupan masyarakat miskin perkotaan di tengah riuh meriahnya perayaan hari jadi ke 8 kota Tangerang Selatan, dimana perayaan tersebut sudah digelar sejak beberapa hari sebelum hari H,  yang menelan anggaran milyaran rupiah.

Dan, puncak perayaan itu ditutup dengan digelarnya acara malam inagurasi HUT Tangsel ke 8  pada Sabtu (26/11) malam yang diisi dengan berbagai pertunjukan serta hiburan rakyat.

Memaknai puncak peringatan HUT ke 8, dengan tagline “Sewindu Lebih Maju,” wakil wali kota Tangerang Selatan, Benyamin Davnie  mengatakan, “Rangkaian perayaan HUT ke 8 kota Tangsel telah digelar, mulai dari refleksi 8 tahun perjalan kota ini hingga kegiatan yang sifatnya menghibur usai sudah. Arti sewindu kota Tangsel bagi saya sendiri lebih kepada bagamana melihat lagi ke belakang dan menatap masa depan, 6 tahun kepemimpinan wali kota Airin Rachmi Diany diperiode ke dua kepemimpinan kami, dan kami berintropeksi bersama para kepala Dinas, apa yang sudah kami lakukan, kemudian apa yang harus kami lakukan lagi ke depan,” ujarnya Pak Ben sapaan akrab Benyamin Davnie, Sabtu (26/11).

Hal lain yang patut untuk direfleksikan dalam perjalan 8 tahun kota ini adalah pemanfaatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Derah (APBD) tahun 2016 sebesar Rp 3.310.393.775.405,- (Tiga Trilyun Tiga Ratus Sepuluh Milyar Tiga Ratus Sembilan Puluh Tiga Juta Tujuh Ratus Tujuh Puluh Lima Ribu Empat Ratus Lima Rupiah), yang disahkan di awal Januari 2016, kemudian mengalami perubahan serta penambahan sebesar 7,3 milyar pada pengesahan APBD Perubahan, Rabu (26/10).

Anggaran sebesar itu berpotensi Silpa atau sisa lebih pembiayaan anggaran tahun berkenan, baik itu selisih surplus atau deficit dengan pembiayaan netto. Dimana seharusnya dalam penyusunan APBD angka Silpa itu adalah nol, namun hal itu semua saya tergantung dengan daya serapan anggaran yang dipredisi mencapai angka Rp 600 Miliar.

“Tahun ini Silpa 2016 di prediksi sekitar 600 milyar, yang artinya 18% dari jumlah anggaran 3,3 Trilyun,” singkat Tedy Meiyadi saat dihubungi via telepone selulernya, Selasa (22/11).

Terlepada dari itu semua, sebagian besar masyarakat kota yang dijuluki kota cerdas, modern dan religious ini benar-benar lebih maju, sebagaimana tagline perayaan HUT ke 8 tahun ini, “Sewindu Lebih Maju”. (ibnu/cr)