Beranda HUKUM & PERISTIWA

Sebagian Korban Penggusuran Tol Kunciran-Bandara Soetta Belum Menerima Uang Ganti Rugi

586

Tangerang, SUARA TANGSEL – Puluhan warga mendatangi Kantor pengadilan Negeri Kota Tangerang pada Selasa (6/4) untuk menuntut ganti rugi pembayaran pembebasan lahan yang digunakan untuk pembangunan Jalan Tol JORR Kunciran-Bandara Soekarno Hatta (Soetta) yang belum terselesaikan.

Diketahui dari semenjak di eksekusi, Warga Kampung baru RT02/01, Kelurahan Jurumudi, Kecamatan Benda Baru, Kota Tangerang mengaku dikasih waktu tiga bulan untuk proses mediasi tetapi hingga kini belum ada kepastian.

Adapun tuntutan korban pembebasan Jalan Tol Kunciran-Bandara Soekarno Hatta, yaitu mengenai uang pembayaran yang dinilai tidak berimbang dan tidak adil, lalu warga pun mempertanyakan kenapa tanah sawah atau galian dinilainya lebih mahal dari pada tanah daratan.

Lebih lanjut Nawati salah satu warga Kampung Baru RT 02/01 menuturkan, kenapa tanah daratan yang sudah ditinggali oleh warga puluhan tahun itu hanya dihargai Dua Juta Enam Ratus Ribu Rupiah. Dan Sedangkan tanah persawahan dihargai Tujuh Juta Rupiah.

“Jadi kami sepakat meminta untuk harga tanah yang di daratan itu disamakan dengan harga tanah yang ada di persawahan atau rawa-rawa, tanpa harus dibeda-bedakan,” tegas Nawati.

Menurut keterangan, dari hasil penggusuran untuk pembangunan jalan tol tersebut, hingga sampai saat ini warga Kampung Baru RT 02/01 belum dapat uang penggantian.

“Iya, tempat kami sudah digusur, tapi kami belum sama sekali mendapatkan uang penggantian dari pihak tol,” jelasnya.

Nawati mengatakan untuk korban penggusuran jalan tol Kunciran-Bandara Soekarno Hatta, saat ini masih ada 23 sertifikat yang belum mendapatkan uang penggantian lahan.

“Kalo untuk jumlah Kartu Keluarga (KK) itu semuanya ada 73 KK,” jelasnya.

Nawati dan warga korban penggusuran yang lain akan terus mendatangi Kantor Pengadilan Negeri Kota Tangerang ini sampai tuntutan mereka terpenuhi.

“Kami akan terus datang ke Pengadilan sampai hak kami terpenuhi, dan kami mendapatkan biaya ganti rugi lahan yang sudah digusur,” ujarnya.

Dirinya juga menjelaskan bahwa persidangan masalah penggusuran ini sudah hampir delapan bulan lamanya. Namun hingga sampai saat ini belum mendapatkan kepastian dari pihak pengadilan.

“Dari mulai tanggal 1 September 2020 hingga sekarang, kami belum mendapatkan kepastian terkait uang ganti rugi,” paparnya.

Akibat dari penggusuran dan belum mendapatkannya uang ganti rugi, warga Kampung Baru RT 02/01 saat ini harus rela tinggal di posko-posko diarea tidak jauh dari lokasi penggusuran.

“Saya harap masalah ini bisa cepat selesai, kami semua sudah lelah mondar-mandir ke pengadilan terus menerus tapi tidak ada tanggapan,” harapnya.

Nawati juga sangat berharap kepada Presiden Jokowi agar segera menyelesaikan masalah ini dan harus melihat penderitaan yang masih warga akibat dari penggusuran lahan pembangunan jalan tol Kunciran-Bandara Soekarno Hatta tersebut.

“Kemarin waktu peresmian, sebenarnya kami ingin bertemu pak Presiden dan ingin mengatakan kepada beliau bahwa kami masih menderita akibat penggusuran dan pembangunan tol, tapi kenapa pak Jokowi sudah diresmikan, padahalkan belum diselesaikan masalah pembebasannya,” jelasnya.

“Saya minta tolong kepada Bapak Presiden Joko Widodo, tolong datangin kami pak, kami kan warga bapak, jangan datangin kepernikahan Aurel saja, biar masalah kami bisa terselesaikan pak,” harapnya.

Deni/Fahmy