Beranda TOPIK UTAMA NASIONAL

Pemerintah Akan Bangun Reaktor Nuklir di Serpong, Pakar Nuklir Eksperimental Menentang Keras

343
ilustrasi pltn

Jakarta, SUARA TANGSEL –Pemerintah Republik Indonesia dan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) saat ini sedang melaksanakan pembangunan reaktor nuklir terbaru atau yang ke-4 di Serpong Tangerang Selatan, dekat dengan Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek). Nantinya reaktor yang ditargetkan selesai dan beroperasi 2019 tersebut juga akan menggunakan bahan bakar thorium (nuklir hijau).

“Nantinya reaktor kita yang baru dalam program Reaktor Daya Eksperimental (RDE) kapasitas 30 mega watt (MW) juga menggunakan thorium, jadi rektor ini bisa uranium juga thorium,” ungkap Kepala BATAN Djarot Sulistio Wisnubroto, kepada Wartawan, Selasa (11/8/2015).

Djarot mengatakan, salah satu alasan mengapa BATAN juga mengembangkan thorium, karena cadangan thorium di Indonesia jauh lebih banyak dibandingkan uranium.

“Cadangan Thorium di Indonesia mencapai 70.000 ton, atau 4 kali lebih banyak daripada cadangan uranium kita,” ungkapnya.

Ia mengakui, penggunaan thorium untuk listrik jauh lebih aman dibandingkan dengan menggunakan uranium.

“Walau sama-sama mengandung radiasi, thorium memang jauh lebih aman daripada uranium. Karena thorium tidak bisa digunakan jadi senjata seperti uranium,” tutup Djarot.

Rencana pemerintah membangun reaktor nuklir mini alias reaktor daya eksperimental (RDE) di wilayah Serpong, Tangerang Selatan, ditentang keras oleh pakar nuklir eksperimental Iwan Kurniawan. Pasalnya, teknologi milik BUMN Rusia, Rosatom yang akan digunakan untuk reaktor tersebut masih belum teruji.

Menurut Iwan, Rosatom hanya memiliki desain RDE tanpa ada pengalaman membangunnya. Bahkan di negara mereka sendiri teknologi tersebut belum diterapkan.

“Ini sama saja Indonesia dijadikan kelinci percobaan ilmuan Rusia,” kata Iwan saat menjadi pembicara dalam seminar “Mengungkap Ketertutupan Rencana Pembangunan PLTN di Indonesia” di Jakarta, Kamis (13/8).

Iwan mengingatkan, pembangkit listrikĀ  tenaga nuklir memiliki resiko keamanan yang sangat luar biasa. Karena itu, sangat berbahaya jika pemerintah menggunakan teknologi yang belum pernah diuji sebelumnya.

Apalagi, lanjutnya, saat ini Indonesia tidak punya rencana yang jelas dan terukur terkait pembangunan serta penggunaan energi nuklir. “Kesimpulan saya, RDE itu dirty bomb,” terangnya.

Iwan mengharapkan Presiden Jokowi bersedia menjadi pemrakarsa agar semua pihak yang berkepentingan bisa duduk bersama dan terbuka membahas isu PLTN di Indonesia. Menurutnya, persepsi pro dan kontra baiknya ditiadakan, karena esensinya adalah ilmiah.

“Dalam konteks ini, Presiden harusnya menjadi pemrakarsa agar semua pihak bisa duduk bersama membicarakan masalah ini. Buka saja, semua terbuka,” tukasnya.

Dalam kesempatan yang sama, mantan anggota Dewan Energi Nasional, Herman Darnel Ibrahim menyampaikan hal senada. Ditegaskannya, kebijakan terkait energi nuklir haruslah di rancang secara rasional dan sangat hati-hati.[hnf/kml/ind]

Editor : AF Hanafi