Beranda OPINI

NU Harus Dijaga dari Serangan Kepentingan Politik

432
logo-nu

NAHDLATUL ULAMA beberapa hari ini menjadi bahan perbincangan yang menarik. Kerap kali organisasi   sosial   keagamaan   ini   menjadi   bulan-bulanan   dalam   setiap eskalasi   politik   negara ini.   Namun,   beberapa   ulama   yang   dituakan  di  tubuh   NU cakap   mengimbangi   akselerasi (memainkan   peran)   sebagai   negarawan   dalam menyelesaikan persoalan bangsa ini.

Tragis rasanya jika orang-orang di dalam tubuh NU itu sendiri memanfaatkan NU sebatas untuk kepentingan pribadi atau kelompoknya. Padahal di dalam organisasi NU, pasti ada mekanisme pengambilan keputusan yang sifatnya strategis dan harus melalui musyawarah para ulama.

Sudah banyak kasus, misalnya Nusron Wahid yang kerap mengatasnamakan NU dalam   setiap   manuver politiknya.   Dan   bahkan   baru-baru   ini   beredar   sebuah unggahan  foto   di   sosial   media   (twitter) @NusronWahid1.   Dalam   akun   twitter   itu,  Nusron yang baru saja sowan ke Rais Amm PBNU KH Makruf Amin, mengetikkan cuitannya “Suasana silahturahmi penuh keakraban & layaknya anak dan orang tua. Tidak seperti yg dipersepsikan org selama ini.”

Sepintas   jika   melihat   kicauan   ini,   Nusron   melakukan   pencitraan   positif,   pasca-berbenturan pendapat   dengan   organisasi   Islam   lainnya   dalam   kasus   blunder   Al Maidah 51 yang dilontarkan Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Padahal,   kabar   yang   beredar  justru   ia   dinasehati   tentang   sikapnya   yang   kurang sopan dengan para kyai di NU, yang tua-tua. Sudah banyak sejumlah pengurus NU marah dengan sikap Nusron, yang kerap secara sepihak mengatasnamakan NU.

Masih  ingat   pernyataan Nusron  tentang  bahwa  “yang hanya bisa  menafsirkan Al Maidah   51   itu   ya Ahok,”   Pernyataan   ini   dianggap   menghina   para   ulama   oleh sebagian orang, sementara para ulama juga  ada  yang ahli  tafsir Al Qur’an. Dan kasus ini berujung pada penyerangan opini oleh sekelompok orang ke Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang disitu juga ada KH Makruf Amin sebagai Ketua Umumnya, hingga muncul petisi untuk membubarkan MUI.

Kasus   lainnya   yang   sempat   beredar   adalah   kegiatan   “Perayaan   Hari   Santri sekaligus  Deklarasi Pilgub  Damai”   yang  digelar  RelaNU   (Relawan   Nusantara)   di Wisma Antara, Merdeka Selatan, Jakarta pada Jumat (21/10/2016) lalu.

Disitu ada beberapa tokoh NU yang langsung menyebut jabatannya di NU. Yakni KH Masdar Farid Mas’udi Rais Syuriah PBNU. Kemudian adalagi Rais Syuriah PBNU KH   Ahmad   Ishomuddin.   (lihat: http://detik.com/news/berita/3326751/berkalung-sarung-ahok-hadiri-peringatan-hari-santri-bersama-relanu  & http://beritasatu.com/nasional/394230-rais-syuriah-pbnu-beda-pilihan-politik-jangan-rusak-kebhinekaan.html )

Padahal   sebelumnya   KH   Miftahul   Akhyar,   Wakil   Rais   Amm   PBNU   sempat menanyakan kegiatan ini. “Apa betul ini? Deklarasi Dukungan? Kenapa harus bawa NU dan jabatan?” Begitu tanyanya. Tapi pertanyaan ini tidak dijawab. Informasi ini beredar luas.

Jika   dilihat   pertanyaan   yang   diajukan   sangat   rasional,   dan   wajar   pertanyaan   itu diajukan KH Miftahul selaku Wakil Rais Amm, jabatan lebih tinggi dari Rais Syuriah. Kenapa   rasional,   sebab   jika memang   kegiatan   itu   agendanya   adalah   Deklarasi Pilgub   Damai,   seharusnya   penyelenggara menghadirkan   KPUD   dan   Bawaslu Jakarta,   berikut   dua   calon   gubernur   Jakarta   lainnya,  Agus Harimurti   Yudhoyono (AHY) dan Anies Baswedan, bukan cuma Ahok.

“Kesannya malah silaturahmi tim pemenangan Ahok.” Lagi-lagi NU dijual. Ini tidak bisa   didiamkan terus-menerus.   Sebagai   warga   NU,   kami   meminta   agar   PBNU melakukan   perombakan kepengurusan   dan   memberikan   sanksi   keras   terhadap mereka yang melanggar keputusan tertinggi organisasi.

Jika kondisi ini dibiarkan berlarut-larut, NU sebagai organisasi dan para pimpinan tertinggi di NU akan terus menjadi bulan-bulanan, yang berefek pada imej organisasi NU.

“Semoga   para   kyai   yang   juga   orangtua   kami   selalu   diberikan   kesehatan   dan kemudahan dalam menjalankan   amanah,   menjaga   NU   dan   Bangsa   ini.”   Salam hormat   dari   kami   di   Sulawesi. Tulisan   ini   merupakan   wujud   kegelisahan   kami terhadap kondisi NU kini.

Ditulis Oleh: Andi Fatimah, Penggiat Perempuan NU dari Sulsel