Beranda HUKUM & PERISTIWA

Ngaku Menantu Jenderal, Pasutri Tipu Korbannya Senilai 39,5 Miliar

588

Jakarta, SUARA TANGSEL – Pasangan suami istri berinisial DK dan KA ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus penipuan terkait proyek fiktif dengan total Rp 39,5 miliar. Untuk memuluskan aksinya, tersangka selalu mengaku sebagai menantu Jenderal Timur Pradopo, yang tak lain adalah mantan Kapolri periode 2010 – 2013.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Yusri Yunus mengatakan, pelaku juga mengaku berpengalaman di bidang bisnis dan memiliki banyak proyek. Sehingga, korban menjadi percaya dan bersedia bekerja sama dengan memberikan uangnya.

“Ada beberapa proyek, korban ini dijanjikan kemudian sama ini dengan terakhir proyeknya fiktif semuanya. Fiktif dan tidak berjalan sampai dengan saat ini. Itu modus operandi yang dilakukan oleh tersangka ini,” kata Yusri di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Rabu (27/1/2021).

Pelaku telah menipu korban terkait pembeli lahan dan perusahaan di Karawang senilai Rp24 miliar. Lalu, proyek penyedia bahan bakar industri berskala besar atau MFO senilai Rp4,3 miliar.
Selanjutnya, proyek batubara senilai Rp5,8 miliar. Kemudian, pembelian sebidang tanah di Depok senilai Rp2,2 miliar. Total pelaku meraup Rp39,5 miliar dan menjanjikan kepada pelaku akan mengembalikan dengan keuntungan yang dijanjikan.

“Namun, pada kenyataannya tidak sesuai dengan yang dijanjikan dan ketika korban meminta kembali titipan uang atau dana tersebut tersangka tidak mengembalikan uang korban hingga saat ini,” kata Yusri.

Yusri mengatakan setelah menerima uang tersebut, DK menyerahkan kepada istrinya, KA. Uang tersebut lalu dibelikan sebidang tanah dan rumah di Bintaro Jaya. KA kemudian ditetapkan sebagai tersangka terkait tindak pidana pencucian uang.

“Dia memang adalah yang menerima transferan dari suaminya sendiri. TPPU pasif, karena diasetkan dari hasil kejahatan membelikan kembali atau mencuci uangnya beberapa aset yang ada sebidang tanah dan rumah,” kata Yusri.

Lebih lanjut, selain pasutri tersebut, terdapat lima tersangka lainnya yang turun ditetapkan sebagai tersangka, yakni FCT, BH, FS, DWI, dan CN. Kelimanya membantu DK dalam membuat proyek fiktik tersebut. Meski demikian, kelimanya tak ditahan karena kooperatif.

“DW aliaz DK dan tersangka KA yang berperan aktif dalam melakukan penipuan dan penggelapan dan menampung uang hasil kejahatan tersebut dan tidak kooperatif. Sedangkan tersangka lainnya tidak dilakukan penahanan karena peranannya pasif dan kooperatif,” kata Yusri.

Atas perbuatannya, para tersangka dijerat Pasal 378 KUHP tentang penipuan dan atau pasal 372 KUHP tentang penggelapan dan atau pasal 263 ayat (2) KUHP Jo Pasal 3,4,5 UU RI Nomor 8 tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang dengan ancaman hukuman maksimal dua belas tahun penjara. (Den)