Beranda HUKUM & PERISTIWA

Motor 31 Juta Milik Pengusaha Kaca Patri Ditarik Paksa Debt Collektor

1048

Pondok Aren, SUARA TANGSEL – Herman (58) warga RT 03/RW 07, Kampung Lio, Kelurahan Pondok Kacang Timur, Kecamatan Pondok Aren, Tangerang Selatan (Tangsel) menyayangkan atas peristiwa penarikan paksa kendaraan motor pribadi miliknya.

Diketahui, bahwa Herman ini adalah merupakan salah satu Nasabah peminjam uang di Koperasi Mitra Anugerah Sentosa Pamulang, dirinya meminjam uang sebesar 10 juta rupiah, dengan jaminan BPKB motor miliknya.

Menurut keterangan, pinjaman uang tersebut sudah dibayarkan semua dengan cara diangsur setiap bulan olehnya, yaitu sebanyak 12 bulan. Akan tetapi dirinya melebihi 1 bulan angsuran karena ada satu bulan yang tidak masuk, sehingga total menjadi 13 bulan. Setelah membayar angsuran sebanyak 13 bulan selesai, berselang kurun waktu dua Minggu, tiba-tiba motor Nmax dengan Nopol B 6929 WUX yang di beli dengan harga cash 31 juta, ditarik paksa.

Penarikan paksa tersebut, kata Herman, berawal pada saat itu motor Nmax tersebut sedang dibawa oleh Al Fikri Ramadhan (28) yang merupakan anak kandung dari Herman, dan motor tersebut hendak dibawa Fikri untuk berangkat kerja.

Akan tetapi setibanya di dekat Stasiun Kereta Api Rawa Buntu, Serpong, sekitar pukul 9 pagi, anaknya itu tiba-tiba dihadang oleh dua orang tidak dikenal berkulit hitam, dan dua orang tersebut menanyakan kepada anaknya, “Ini motor pak Herman ya, motor ini saya ambil, surat penarikan nanti menyusul di kantor.”

Karena merasa takut, anaknya pun langsung memberikan motor tersebut. Bahkan STNK motor itu pun ikut diambil paksa.

Peristiwa itu terjadi pada Jum’at 22 Oktober 2021, dan kejadian ini baru dilaporkan ke Polsek Serpong, pada pada Rabu 17 November 2021. Dengan nomor : TBL/709/K/XI/2021/SPKT/Sek. Serpong. Dengan dikenakan pasal 378.

“Anak saya kerja, baru mendapatkan izin dari tempatnya bekerja baru hari ini, dan baru memberi laporan juga ke Polsek sekarang, karena yang harus memberi laporan itu anak saya, bukannya saya,” jelas Herman, Rabu (17/11).

Atas kejadian ini, Herman pun mencoba mendatangi kantor koperasi tempat dimana dirinya meminjam uang, dan akan menanyakan kepada pihak koperasi perihal penarikan motor secara paksa yang dialami oleh anaknya itu.

Sementara itu, Halim (38) yang merupakan Kepala Cabang Koperasi Mitra Anugrah Sentosa, Pamulang, saat di konfirmasi oleh awak media, membenarkan bahwa adanya penarikan satu unit kendaraan bermotor secara paksa yang dialami oleh nasabahnya itu, dan menurut informasi yang didapatnya itu, penarikan unit itu dilakukan oleh oknum yang mengaku dari pihak perusahaannya.

“Saya juga merasa kaget ketika ada salah satu Nasabah saya melapor bahwa ada unitnya yang ditarik. Akan tapi setelah saya validasi, ditariknya itu bukan dari internal cabang kami, dan itu diluar dari sepengetahuan kami, dan ciri-ciri nya juga bukan dari orang kami, bahkan ini sudah saya validasi sampai ke pihak pusat,” tutur Halim saat dihubungi melalui via sambungan WhatsApp miliknya, pada Rabu (17/11).

Pihak Kepolisian dari Polsek Serpong secara lisan telah memanggil Kepala Cabang Koperasi Mitra Anugerah Sentosa untuk dimintai keterangan.

“Saya sudah menjelaskan kepada pihak Kepolisian, bahwa nasabahnya yang bernama Herman itu, benar telah meminjam uang kepada pihak koperasi miliknya, dengan jaminan BPKB motor. Namun semua angsuran pokoknya sudah dilunasi, tinggal bergeming pada tahap dendanya saja. Tapi kenapa ko bisa tiba-tiba ada penarikan unit. Dan anehnya lagi, dalam penarikan unit itu dilakukan oleh pihak yang mengatasnamakan dari pihak perusahaan milik kami,” bebernya.

Dirinya pun menegaskan, dalam masalah ini, dari pihak cabang sendiri tidak pernah mengarahkan untuk penarikan unit, apalagi ketika nasabah itu sudah melunasi angsuran pokoknya. Adapun untuk setiap masalah denda, pihaknya masih punya toleransi, dan masih bisa dibicarakan kepada nasabah.

“Saya sudah mencoba konfirmasi terkait kejadian ini kepada pihak pusat, dan dari pihak pusat itu sendiri mengatakan bahwa tidak ada unit yang disetorkan kepada pihak pusat, begitu pun di cabang, tidak ada setoran unit yang diterima,” terangnya.

Untuk permasalahan ini, pihak pusat sudah merespon dan sedang berusaha untuk mencari siapa oknum yang menarik unit tersebut. Karena memang pihak pusat mengikat MOU kerjasama oleh pihak ketiga. Dan kami juga tidak mau pencitraan di cabang malah menjadi rusak,” pungkasnya. (Mhd).