Beranda OPINI

Metafora Rumi Tentang Manusia

1246
Jalaludin Rumi

KETIKA langkah kehidupan ini demikian centang perenang, ketika tata social carut marut dan pada saat hidup penuh kontradiksi, tugas siapakah mengingatkan manusia itu? Bagi Jalaludin Rumi – seoarng sufi besar abad 13 dari Persi – tugas itu ada di pundak setiap orang. Setiap orang sesungguhnya guru bagi dirinya sendiri, asalkan ia mau sedikit bersusah payah menghidupkan dirinya dari kematian.

Karena itulah Rumi menuangkan peringatannya itu dalam karya besar Masnawi dengan medium puisi. Puisi mempunyai kekhasan, terasa tidak menggurui, menohok batin di kedalaman dan mesra kendatipun sebuah peringatan keras. Bahasa puisi yang metaphor membuatnya simbolis, universalis, visionis dan (meminjam bahasa sekarang) humanis.

Dalam salah satu puisinya misalnya Rumi membuat peringatan nan indah tentang persaudaraan. Persaudaraan adalah seonggok buah anggur. Kalau kau peras akan menjadi satu sari buah. Yang mentah dan yang matang adanya berlawanan, tapi bila yang mentah juga menjadi matang akan menjadi sahabat yang baik.

Di tempat yang lain, sang penyair sufistik itu menyebut empat sumber kejahatan manusia dengan metafor burung. Kini keempat burung itu mencengkram bangsa ini. Agaknya cengkramannya takkan pernah lepas, tanpa kita lepaskan sendiri. Sebab ia kerap menyatu dengan diri kita.

Burung pertama adalah burung merak, lambang kepongahan.  Rumi menulis tentang merak; “Keinginannya hanyalah menguasai manusia. Ia tidak tahu baik dan buruk, dan tidak peduli akan akibatnya. Ia menangkap korbannya semena-mena, seperti perangkap. Bukankah perangkap tidak pernah tahu untuk apa ia menangkap?”

Kepongahan inilah yang menjadi pakaian orang-orang yang memegang kekuasaan, betapapun kecilnya kekuasaan yang digemgamnya. Kepongahan sang pemimpin membuat ia tak peduli pada orang lain dan akibatnya, tak mau mendengar aspirasi orang yang dikuasainya. Kepongahan aparat melahirkan kekerasan.

Kekerasan menumbuhkan dendam, begitulah dendam membuahkan pembalasan dan itu artinya darah dan air mata. Kepongahan yang dikira sebagian orang bisa mengukuhkan wibawa pada dasarnya tidak pernah ada tanpa ketulusan, sementara ketulusan tak pernah menyatu dengan kepongahan.

Tuhan memang telah melarang kepongahan dan menantang orang pongah menembus gunung. Namun kepongahan seolah mahluk tak mati, ia seakan abadi mendendangkan khayalan kepada manusia. Memang sifat pongah adalah watak pertama Iblis yang menyebabkan ia menjadi musuh Tuhan. Kepongahan jika sudah mendalam hanya mungkin dimusnahkan dengan kematian, seperti halnya Fir’aun.

Burung kedua adalah bebek, lambang kerakusan. Dengan puisi Rumi, bebek adalah kerakusan, karena paruhnya selalu di tanah, mencari yang tersembunyi di tempat basah atau kering. Mulutnya tak pernah berhenti satu saat pun. Ia tidak mendengar perintah Tuhan, apa pun, selain perintah. Makan dan minumlah kamu!

Seperti perampok yang merengsek rumah, ia memasukkan dengan cepat ke kantongnya barang bagus dan jelek. Menjejalkan ke karungnya yang basah dan yang kering, khawatir musuh segera tiba. Waktu mendesak, peluang kecil, ia ketakutan. Dengan segera ia memasukkan ke bawah cengkramannya secepatnya.

Bebek-bebek negeri ini menyeruduk paruhnya pda hutan-hutan lebat, lautan, pada uang orang banyak yang bukan haknya. Mereka segera mengisi karung kekayaannya tanpa memperhatikan yang lain. Tidak ada cara yang paling mudah untuk membangun sentra bisnis kecuali dengan menggusur. Di depan duit, taka da beda antara cara legal dengan illegal. Di depan duit, taka da bedanya mengirim kayu illegal, minyak illegal dengan tenaga kerja illegal. Masalah perlindungan itu bukan urusan.

Bebek-bebek negeri ini menyebar ke mana-mana. Mereka kadang bergerombol di gedung dewan, di sturktur pemerintahan, di lembaga-lembaga BUMN dan swasta. Mereka sering sangat fasih meneriakkan keadilan dan pemerataan, rakyat yang melarat, kendati di atas segalanya mereka mempraktekkan cara-cara keparat. Seperti diungkapkan Rumi, hanya dirimulah yang paling mengetahui, apakah engkau seekor bebek atau bukan.

Burung ketiga adalah ayam jago, lambang pengejaran kenikmatan sensual. Kemana-mana di unjungnya selalu kenikmatan sensual. Semuanya menjadi sah diumbar. Maka tak pelak dengan sedikit bantuan dan sentuhan seni bertebaranlah segala piranti lunak dan kasar yang merangsang sensualitas. Tontonan dan bacaan, harapan dan percakapan, janji dan ilusi, semua diarahkan pada selera ayam jantan.

Rapat-rapat penting yang memutuskan hajat hidup orang banyak dibumbuhi dengan selera ayam jantan. Ayam jantan tua dan muda menyatu dalam kubangan kenikmantan sensualitas yang bebas tanpa batas. Segala macam acara dan urusan tak pernah menyisakan ruang kecuali demi selera ayam jantan.

Kini selera ayam jantan benar-benar ada. Orang tua lua diri kepada anaknya. Anak memberlakukan orang tua seperti betinanya. Pendeknya, ayam jantan terus bertambah biak, menyebar ke segala sudut dan penjuru, desa dan kota, kalangan atas dan bawah.

Burung keempat adalah burung gagak, lambang kecintaan yang berlebihan kepada dunia. Kerakusan kita kan kekayaan dan ketakutan kita akan kehilangan dunia membuat kita sensitive terhadap berita yang kita duga bakal merugikan kita. Kita menumpuk-numpuk uang dan menghitungnya. Kita mengira itulah yang akan mengekalkan kita.

Kita merayap seperti bebek, berkicau seperti ayam jantan dan terbang bagai burung gagak pemakan bangkai. Kecuali itu kita mengibarkan bendera kekuasaan.

Keengganan kita kepada perintah Tuhan disebabkan kecintaan kita kepada dunia yang terlalu berlebihan.

Dunia membuat kita lupa banyak hal. Kita pun menjadi merasakan kehilangan besar kalau terjadi kerugian, sementara kehilangan iman merupakan hal biasa.

Begitulah Rumi menyindir manusia ini. Negeri yang kini telah dihuni 254,9 juta orang lebih pun bertaburan empat burung itu.

Tidak berlebihan kalau tahun ini kendati oleh sebagian orang dinamakan Tahun Monyet Api, tampi menurut penulis lebih ditepat disebut tahun merak, bebek, ayam jantan dan gagak. Apakah kita termasuk yang memelihara salah satunya?

Ditulis Oleh : Ahmad Dayan Lubis, Alumni HMI Cabang Jakarta , tinggal di Medan, Sumatera Utara.