Beranda SUARA BANTEN KOTA TANGERANG

Mengenal Sejarah di Balik Monumen Lengkong

1117
Monumen Lengkong, Tangerang (sumber: ksmtour.com)

Serpong, Suaratangsel.com – “Jas merah” atau “jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah” adalah slogan dari Bung Karno mengenai pentingnya mempelajari dan mengetahui sejarah, khususnya sejarah Indonesia. Sebagai generasi penerus bangsa, kita harus meneladani sikap nasionalisme para pahlawan yang telah gugur demi memperjuangkan kemerdekaan negara ini. Salah satu cara untuk memperingati perjuangan mereka adalah dengan mendirikan monumen dan sejenisnya.

Monumen-monumen yang telah dibangun diantaranya yaitu Monumen Palangan Ambarawa di Semarang, Tugu Pahlawan di Surabaya, Monumen Bandung Lautan Api di Bandung, dan masih banyak lagi. Di Kota Tangerang juga terdapat monumen yang tak kalah penting, yaitu Monumen Lengkong. Namun sedikit yang mengetahui sejarah di balik monumen tersebut. Berikut adalah sejarah singkat Monumen Lengkong.

Monumen Lengkong merupakan sebuah monumen yang dibangun pada tahun 1993 oleh pemerintah Kota Tangerang dan BSD. Monumen ini dibangun untuk memperingati peristiwa lengkong yang terjadi setelah perang pasifik. Peristiwa tersebut menyebabkan 3 Perwira dari Resimen IV Tentara Republik Indonesia dan 34 Taruna Akademi Militer terbunuh. Monumen Lengkong terletak di bagian depan kawasan perumahan BSD, Kota Tangerang Selatan, Banten.

Catatan sejarah menuliskan pada 25 Januari 1946, Mayor Daan Mogot memimpin puluhan Taruna Akademi Militer Tangerang dan merupakan akademi militer pertama di Indonesia untuk mendatangi markas Tentara Jepang di Desa Lengkong. Mereka datang dengan tujuan melucuti senjata Tentara Jepang. Daan Mogot didampingi oleh sejumlah perwira, seperti Mayor Wibowo, Letnan Soetopo, dan Letnan Soebianto Djojohaikusumo.

Untuk melakukan pembicaraan dengan pimpinan Dai-Nippon hanya Daan Mogot, Mayor Wibowo, dan seorang Taruna Akademi Militer Tangerang yang diizinkan masuk. Sementara Letnan Soetopo dan Letnan Soebianto ditunjuk untuk memimpin Taruna yang menunggu di luar. Pertemuan berjalan dengan lancar hingga terdengar rentetean letusan senapan dan mitraliur dari arah yang tidak diketahui.

Senjata yang awalnya diserahkan direbut kembali oleh sebagian Tentara Jepang. Pertempuran yang tidak seimbangpun tak dapat dihindari. Banyak korban dari pihak Indonesia yang berguguran karena kalah kuat. Sebanyak 34 Taruna dan 3 Perwira gugur dalam peristiwa tersebut. Perwira yang gugur antara lain, Daan Mogot, Letnan Soebianto, dan Letnan Soetopo. Peristiwa ini kemudian dikenal dengan Pertempuran Lengkong.

Untuk mengenang Peristiwa Lengkong maka dibangun Monumen Lengkong yang berada di wilayah Serpong. Monumen tersebut berdiri berdampingan dengan Taman Daan Mogot di atas lahan seluas 500 meter persegi. Pada dinding prasasti monumen terukir nama-nama taruna dan perwira yang gugur pada peristiwa pertempuran Lengkong. Dan di dalam museum terdapat foto-foto perjuangan para taruna militer di Indonesia berserda akademiknya. Kini Monumen Lengkong dijadikan tempat peringatan Peristiwa Lengkong setiap 25 Januari.

(Dikutip dari berbagai sumber)