Beranda BUDAYA

Membangun Kembali Semangat Persatuan di Museum Pustaka Peranakan Tionghoa

358
Foto: Hana. Pemilik Museum Pustaka Peranakan Tionghoa, Azmi Abubakar (baju putih), menyambut pengunjung di depan pintu masuk museum.

Serpong, SUARA TANGSEL – Sejarah kelam yang terukir pada masa Orde Baru menimbulkan luka, ketegangan dan trauma etnik di masyarakat Indonesia, khususnya antara masyarakat lokal dengan warga Tionghoa. Ketegangan itu semakin mencuat belakangan ini, terutama pasca Pilkada DKI 2016/2017 lalu. Pandangan buruk serta paranoid terhadap etnis Tionghoa semakin parah, begitu juga sebaliknya.

Atas dasar itu, seorang lokal berdarah Aceh dan lulusan teknik sipil, Azmi Abubakar, tertarik dan berinisiatif untuk menelusuri jejak sejarah peranakan Tionghoa di Nusantara hingga akhirnya mendirikan Museum Pustaka Peranakan Tionghoa pada 2011 yang terletak di salah satu ruko di belakang ITC BSD, Serpong.

Sejak 1998, ia mulai berburu dan mengumpulkan segala hal bukti sejarah tentang Tionghoa di Indonesia dengan dana pribadi, baik itu dalam bentuk catatan harian, koran, karya ilmiah, majalah bahkan hingga komik, foto, patung dan berbagai jejak peninggalan lainnya.

“Peristiwa ’98 merupakan puncak alasan yang mendorong Saya untuk jadi detektif pemburu sejarah tentang etnis Tionghoa di Nusantara. Saya ingin tahu kok upaya numbangin rezim saat itu malah seolah digerakkan untuk berhadapan dengan etnis Tionghoa”, papar Azmi saat di temui di lokasi museumnya pada Sabtu kemarin (21/7). Hingga kini koleksinya sudah mencapai lebih dari 35.000 lebih yang berkaitan dengan sejarah peranakan Tionghoa.

Foto Istimewa: Bagian sisi yang dipenuhi koleksi sumber.

Hasil pencarian itu menunjukkan kepadanya bahwa etnis Tionghoa memiliki kontribusi yang sangat besar terhadap bangsa kita. “Dari penelusuran ini saya mendapatkan perspektif bahwa etnis Tionghoa itu tak seburuk yang kita bayangkan selama ini. Mereka punya kontribusi yang sangat penting dalam perjalanan pemapanan bangsa kita. Kita harus akui itu”, tuturnya.

Ia berharap dengan perspektif serta pemahaman sejarah tersebut bisa jadi pengikis kebencian sekaligus jadi jembatan yang menghubungkan kembali masyarakat kita untuk belajar berani damai dengan orang yang berbeda dengan kita, terlebih etnis Tionghoa yang sudah jadi bagian dari warga negara kita. Jangan sampai kita jadi korban kebencian ikut-ikutan tanpa tahu akar yang jelas, yang hanya sekedar ‘kata orang’.

Lebih lanjut ia menekankan bahwa semangat cultural bridging harus terus dipupuk, terutama di kalangan pemuda sekarang. “Penting bagi kita untuk mempelajari sejarah dan budaya yang berbeda dengan punya kita sehingga tercipta budaya saling memahami dan persaudaraan. Ini kan sangat penting untuk menjaga persatuan bangsa kita”, jelas Azmi. (Haha)