Beranda SUARA BANTEN KOTA TANGSEL

Lahan Seluas 3.4 H Milik BSD City Dipersoalkan Pihak yang Mengaku Ahli Waris Hj.Rokayah Binti H.Mujitaba

137

Pagedangan, SUARA TANGSEL – BSD City adalah kawasan segi tiga emas di Kota Tangerang Selatan. Di kawasan ini dibangun perumahan bergaya fantasi yang membelah wilayah Tangerang Selatan dan Kabupaten Tangerang.  Hampir setiap tahunnya selalu saja ada inovasi baru dari pengembang untuk mengenalkan produk terbaru mereka seperti saat ini, dimana BSD City tengah mendesign kawasan regentown.

SML selaku pengembang property raksasa di Indonesia  selalu mendesign konsep property yang berpihak kepada kepentingan masyarakat. Terciptanya lapangan kerja, infrastruktur yang modern adalah pelayanan terbaik yang kerap dilakukan untuk memenuhi kebutuhan konsumen dan berguna bagi masyarakat sekitarnya.

Kali ini sandungan batu menimpa SML, selaku pengembang property raksasa. SML terkenal sebagai pembesut daerah dari pemukiman hutan jati menjadi hutan yang asri dan nyaman untuk di tempati. Lahan seluas 3,4 Hektar yang sudah di kuasai oleh SML tanpa tedeng aling kembali digugat oleh ahli waris Hj.Rokayah Binti H.Mujitaba.

Menurut keterangan dari ahli waris, Badrudin, ” jika sejak 1984 tanah waris miliknya itu  sudah dikuasai oleh pihak pengembang BSD”.  Untuk mendapatkan hak warisnya itu, ia telah berusaha menemui pihak BSD City, namun selalu tak ditanggapi, dan seolah mengacuhkan. Karena itu ia merasa merasa kecewa.

“ Kami bukan sekedar mengaku tanpa bukti, karena bukti yang kami miliki atas tanah tersebut jelas, dan siap untuk kami perlihatkan kepada pihak BSD City. Tanah atau lahan yang dimiliki BSD City itu bukan sebesar 3,4 H tetapi 1,8 H,” ucap Badrudin.

Badrudin mengaku jika dirinya merasa terdzolimi, ia mengaku bahwa dirinya tidak pernah memperjualbelikan tanah yang di milikinya tersebut, dirinya mengaku kalau ia adalah ahli waris sah dari Hj.Rokayah Binti H.Mujitaba, orangtuanya.

Saat ditemui di lokasi tanah yang dipermasalahkan, kepada wartawan pihak ahli waris memperlihatkan bukti-bukti kepemilikan atas tanah tersebut, karenanya berdasarkan bukti tersebut ahli waris akan tetap mempertahankan, dan mengklaim tanah yang dikuasai SML ini adalah tanah milik orang tua mereka.

Akibat tidak ada respon baik dari SML, dirinya ingin mengambil alih kembali lahan seluas 3,4 H tersebut. Alhasil, Kamis (30/4) lalu terjadi perdebatan sengit antara ahli waris, Badrudin dengan pihak BSD City. Awal rencana hendak melakukan mediasi akhirnya gagal, disebabkan karena kedua belah pihak bersitegang, saling memperlihatkan keabsahan dokumen asli yang dimilikinya masing-masing.

Sementara itu ditempat terpisah, Kuasa Hukum BSD City, Sahat P Sihombing SH menjelaskan kepada media, bahwa pada tahun 1984 tanah tersebut telah dijual Barokah kepada Bapak Ahmad Satiri, dan tanah itu dilepaskan ke kami pihak BSD City, yaitu pada tahun 1989 melalui Ahmad Satiri, sehingga kami tidak merasa ada masalah dengan tanah itu.

“Memang kami pernah dilaporkan langsung oleh pihak yang mengatas namakan ahli waris Barokah kepihak kepolisian, dan kami telah menanggapinya dengan memberikan bukti-bukti yang kami miliki kepihak kepolisian.”ujar Sahat.

“Dalam kurun waktu tahun 1989, sejak tanah tersebut dilepaskan ke pihak BSD City, kami segera melengkapi dokumen tanah tersebut yang akhirnya tahun 1994, kami telah memiliki surat tanah Hak Guna Bangunan / HGB atas tanah itu”, ungkapnya.

Sepanjang masa kepemilikan tersebut, pada tahun 2008 baru mulai muncul persoalan tanah seluas 3,4 Hektar tersebut.” Ucap Sahat.

Kita tetap berkeyakinan bahwa berdasarkan surat kepemilikan yang kami miliki, jelas itu milik kami pihak BSD City, dan kami siap untuk memperlihatkan bukti kepemilikan atas tanah itu melalui jalur hukum sehingga akan menjadi jelas  dan memiliki landasan hukum yang kuat. Intinya, kami tinggal menunggu waktu saja untuk saling memperlihatkan dokumen asli yang memang ada pada orang yang mengaku ahli waris itu”. Lanjutnya.

“ Ya marilah menunggu keputusan sidang dan hukum saja. Siapa yang paling benar ,” katanya.

Hingga berita ini diturunkan kedua belah pihak saling menunggu mediasi lanjutan. [] ris/jon

 

Editor/Redaktur : Ridwan Saleh