Beranda BUDAYA

Seni dan Budaya Tangsel Hampir Punah Karena Kurangnya Minat Generasi Muda

746

Ciputat, SUARA TANGSEL – Kurangnya minat generasi muda akan seni dan budaya Kota Tangerang Selatan adalah ancaman hal yang tidak bisa dianggap biasa saja, karena lambat laun seni dan budaya di kota ini akan hilang perlahan-lahan dan menjadi punah.

Untuk itu, diperlukan perhatian dan treatment  khusus dari semua pihak, dalam hal ini pemerintah kota serta para pecinta dan pejuang seni dan budaya di Kota Tangsel.

Bagi pemerintah kota perhatian terhadap seni dan budaya Tangsel itu dapat diwujudkan dengan membuat sebuah regulasi dan atau kebijakan-kebijakan khusus berkenaan dengan pelestarian seni dan budaya kota Tangsel. Sementara bagi para pecinta dan pejuang seni dan budaya kota Tangsel perlunya keseriusan dalam pembinaan generasi muda, agar mereka merasa bangga akan seni dan budayanya sendiri.

Beberapa kegiatan seni dan budaya yang ada di Tangsel itu antara lain adalah; Seni dan budaya Betawi, seperti gambang kromong, cokek, lenong betawi, pencak silat, wayang kulit betawi.  Seni dan budaya kota Tangsel juga tak kalah menariknnya dalah seni dan budaya lahir dari latar seni tanah pasundan, seperti; jaipong, wayang golek, reog dogdog, dll.

Selain seni dan budaya yang dilahirkan karena proses akulturasi budaya betawi dan sunda ada juga seni buaya yang lahir karena adanya pengaruh ajaran Islam yang dikenal dengan istilah ruatan. Ruatan yang dahulu sering di jumpai di Tangsel, kini kian memudar. Acara yang bernafaskan nilai-nailai keislaman ini sangat jarang diadakan atau ditemui di tempat-tempat atau pagelaran seni budaya di kota Tangsel.

Menurut pegiat dan pencinta seni dan budaya kota Tangsel, RM.Pandji Ssc, untuk menjaga agar seni dan budaya Tangsel ini jangan sampai punah, maka pemerintah dan pecinta serta pekerja seni di Kota Tangsel harus bersatu padu memikirkan bagaiman cara paling baik dan efektif untuk memperkenalkan seni dan budaya Tangsel kepada generasi muda.

Salah satu upaya itu adalah diperlukan pelatihan seni dan budaya di sekolah-sekolah yang ada di kota Tangsel. Dan, cara yang paling efektif adalah memasukkan kegiatan seni dan budaya ini ke dalam kurikulum sekolah agar proses regenerasi itu dapat berjalan dengan baik dan ancaman kepunahan itu dapat diatasi.

“Mempertahankan seni dan budaya dari para leluhur di Tangsel ini adalah pekerjaan yang tidak mudah, namun tak ada kata menyerah bila kita sudah bertekat untuk melanjutkan perjuangan mempertahankan seni dan budaya di tanah leluhur sendiri, siapa lagi kalau bukan kita sendiri, kata RM Pandji Ssc, yang ikut berjuang mempertahankan seni dan budaya Tangsel dengan mendirikan sanggar seni Cinta Asih.

Perjuangannnya dalam bidang seni  dan budasya sangat amat luar biasa, beliau adalah  salah satu Penasehat Presiden Gusdur Pada Waktu Itu.

event
Bpk.RM.Pandji Ssc (foto:ketiga dari kanan) bersama para pecinta dan pelaku seni

Pejuang seni di Kota Tangsel memang boleh di acungkan jempol, Lain bapak RM.Pandji Lain Lagi dengan  Bapak Keman Begitu biasa di sebut di kota yang kaya budaya seni ini, Bpk. Keman kerap memperjuangkan kesenian dari 2  kebudayaan sekaligus, dari seni sundanya dan kesenian Betawi, Maka janganlah Heran jIka Kita bertanya  Tentang alat alat musik daerah seperti gambang , gendang, rebab dll hampir semua alat musik ini dia kuasainya , banyak pelaku seni di kota tangsel yang dia ajarkan,  dengan Bendera  Citra budaya Yang didirikan Sejak th 38 an ini katanya guna Melindungi Wayang Kulit Yang Memang Sudah punah Bahkan Hampir tidak terdengar lagi, banayk orang yang yang terkaget kaget dan bingung kalau Budaya Betawi Punya Wayang kulit, yang biasanya sering dimainkan oleh dalang dalang jawa tengah. Citra Budaya Sendiri Bahkan Memiliki Dalang Cilik Wayang Kulit Betawi. Hal yang sangat boleh di banggakan.

Lurah Sawah Lama Bpk Naing SE saat menandatangani SK Kesenian Sanggar Cinta Asih

Mari Lindungi dan lestarikan Budaya di kota Tangsel dengan mendata dan meng SK kan Sanggar sanggarnya. Suaratangsel.com dengan gerakan  Cinta Budaya Tangselnya Mencoba menelusuri dan Mendata kebudayaan yang hampir hilang dan tidak adanya ruang atau tempat budaya center untuk kegiatan pelaku seni di tangsel, Mendata dan memberikan SK dari dinas Pariwisata Tangsel adalah salah satu cara agar kebudayaan dan kesenian di Tangsel Bisa Terus terlindungi dan di cintai Masyarakat Tangsel , yang kini lebih mencintai Dangdut Dan Budaya Sawernya.. / Hendra jaya Raja 4.

Editor / Redaksi : AF. Hanafi