Beranda SUARA BANTEN KABUPATEN LEBAK

Kakao Asal Banten Banyak Diminati Eksportir Untuk Negara Tujuan Asia dan Eropa

5352

Lebak, SUARA TANGSEL — Indonesia merupakan penghasil kakao terbesar ketiga di dunia. Saat ini kakao menjadi komuditas unggulan yang sedang menjadi primadona, dan dikembangkan di Banten. Antusias masyarakat begitu tinggi dengan pengembangan kakao di negeri para “ulama dan jawara” ini.

Kepala Bidang Perkebunan Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Provinsi Banten Agus Purnohadi mengatakan produk kakao asal Banten sangat diminati eksportir terutama untuk tujuan negara-negara Asia dan Eropa.

“Kelebihan kakao Banten memiliki kadar air di bawah 6-7 persen dan  kualitas sudah sesuai standar internasional,” kata Agus saat dihubungi di Lebak.

Selama ini, komoditas kakao menjadikan andalan petani Kabupaten Lebak, Pandeglang dan Kabupaten Serang. Bahkan, produksi kakao tahun 2015 meningkat hingga mencapai 3.188,11 ton dengan luas lahan 9.262,86 hektare. Sedangkan, produksi tahun 2014 mencapai 2.324,12 ton dengan luas tanam 7.397,18 hektare. Meningkatnya produksi tersebut karena tingginya permintaan pasar domistik dan mancanegara.

Saat ini, komoditas produksi kakao dipasok ke luar negeri melalui perusahaan dari Bandung dan Jakarta ke beberapa negara Asia, diantaranya Korea Selatan dan Jepang. Selain itu juga ke beberapa negara di Benua Eropa. seperti Italia, Belanda, Jerman dan Inggris.

“Kami terus mendorong petani meningkatkan prroduksi juga memperluas areal pertanaman,” katanya.

Menurut dia, pihaknya terus mengembangkan tanaman kakao untuk mendongkrak pendapatan ekonomi masyarakat juga penyerapan lapangan pekerjaan. Pengembangan ini melalui perluasan tanaman juga bantuan peremajaan bibit unggul. Sebab Banten merupakan daerah penghasil komoditas kakao di Tanah Air.

“Kami meminta masyarakat agar gemar menanam perkebunan kakao karena nilai jual di pasaran cukup tinggi,” katanya.

Ia mengatakan, selama ini tanaman kakao merupakan komoditi unggulan petani di Provinsi Banten. Namun, areal tanaman dan produktivitasnya itu relatif kecil, sehingga perlu dikembangkan guna mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat. Karena itu, pihaknya meminta masyarakat agar menggalakan tanaman kakao untuk peningkatan kesejahteraan karena harga di pasaran cukup bagus hingga mencapai Rp40.000/Kg. Saat ini, produksi kakao di Banten meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Produksi kakao tahun 2015 diperkirakan mencapai 3.188,11 ton dengan luas tanam 9.262,86 hektare.

Sedangkan, sebelumnya tanaman kakao di Banten tercatat 7.397,18 hektare dengan produksi sebanyak 2.324 ton. Dari 7.397,18 hektare itu diantaranya milik perkebunan swasta seluas 1.022,65 hektare dan rakyat seluas 6.374,53 hektare. Semua perkebunan kakao tersebut tersebar di Kabupaten Lebak, Pandeglang dan Kabupaten Serang.

“Kami optimistis tahun ke tahun terus ditingkatkan produksi kakao melalui bantuan-bantuan kepada kelompok tani agar areal tanaman kakao terus bertambah,” katanya.

Kepala Dishutbun Kabupaten Lebak Kosim Ansori mengatakan pihaknya kini menyalurkan bantuan benih kakao kepada kelompok-kelompok tani secara gratis. Penyaluran bibit ini untuk meningkatkan produksi kakao juga pertumbuhan ekonomi masyarakat. Sebab masa panen tanaman kakao antara empat sampai lima tahun bisa menghasilkan uang.

“Kami yakin petani komoditas kakao bisa hidup sejahtera, karena harga di pasaran sudah menembus Rp40.000/Kg,” ujarnyua.

Sementara itu, seorang petani kakao warga Kecamatan Cirinten, Kabupaten Lebak, Suhada  mengaku dirinya sangat terbantu oleh perusahaan yang menampung hasil komoditi perkebunan karena selama ini harga ditentukan oleh tengkulak.

“Dengan adanya penampungan itu tentu dapat mendongkrak kesejahteraan masyarakat juga akan menggairahkan untuk mengembangkan perkebunan kakao,” katanya. (*/bes/kts)