Beranda PROFIL

Jurhum Lantong : Pernyataan Wakil Ketua KPK, Saut, Pelanggaran Etik Berat

717
Jurhum Lantong

Jakarta, SUARA TANGSEL – Mantan Ketua Umum  Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Majelis Penyelamat Organisasi (MPO) DKI Jakarta Jurhum Lantong mengatakan,  pernyataan Wakil Ketua Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) Saut Situmorang dinilai telah menyinggung seluruh alumni dan kader HMI dan pernyataan tersebut merupakan pelanggaran etik berat sebab pejabat penegak hukum telah dengan segaja menginjak-injak azas praduga tak bersalah.

“Pernyataan itulah yang patut diduga pelanggaran etik berat sebab sebagai pejabat penegak hukum Ia telah menginjak-injak azaz praduga tak bersalah. Yang merupakan pondasi etik dan moral untuk memelihara dan tetap terjaganya prinsip umum rasa keadilan dan kepastian hukum” ujarnya melalui akun What Up yang dikutip oleh suaratangsel.com dan kamar berita.  Selasa 10/5/2016,

Jurhum mengatakan Sebagai pejabat Penegak Hukum, Wakil Ketua Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) Saut Situmorang berkewajiban memegang teguh azas praduga tak bersalah .

“Seorag Pejabat Penegak Hukum? Sekelas Wakil Ketua Komisioner KPK. Wajib bagi memegang teguh azaz praduga tak bersalah” ujarnya .

Menurutnya bahwa Saut Situmorang telah dengan menyakinkan melontarkan dan menyebar luaskan fitnah dengan penyataan terbuka yang mendiskreditkan kader dan alumni HMI.

“Bahwa Pak Saut yang juga pejabat penegak hukum, telah dengan meyakinkan membuat pernyataan terbuka ke publik bahwa kader HMI, setelah melewati pengkaderan LK 1 (latihan Kepemimpinan red.) merek Kader-kader bangsa terbaik. Namun ketika mereka menjabat dan menempati posisi penting ” berubah menjadi korup dan sangat jahat’. Ungkap Pak Saut bersemangat”, ujarnya

“Pokok pernyataan terbuka bahwa kader HMI. Ketika menempati posisi jabatan tertentu berubah menjadi korup dan sangat jahat itu lah. Patut di duga keras Pak Saut telah menyebar luaskan tuduhan serius yakni menggeneralisir kader HMI korup dan jahat” paparnya.

“Patut bagi dewan etik KPK, memeriksa pak Saut atas peristiwa pelanggaran etik serius, yaitu diduga melanggar azaz praduga tak bersalah”, pungkasnya. (GN)