Beranda BUDAYA LIFESTYLE & ARTIS

Joey Alexander, Pianis Cilik Indonesia yang Menyihir Dunia

42
0

Jakarta, SUARA TANGSEL — Tepuk tangan dan seruan riuh memenuhi Dizzy’s Club Coca-Cola di Manhattan, Amerika Serikat. Salutasi meriah ini ditujukan untuk pianis imut asal Indonesia, Joey Alexander.

Berdiri diapit pemain bass dan penabuh drum, sosoknya terlihat makin imut. Penonton pun tergelak karena ujung rambut Joey tak lebih tinggi dari batas dada kedua orang dewasa di sebelahnya.

Joey belum genap berusia 12 tahun. Tapi kemampuan musikalnya luar biasa. Dua hari lalu (12/5), album debutnya, My Favorite Things, dirilis. Demikian dikabarkan laman New York Times, kemarin (13/5).

Melibas Musisi Dewasa

Josiah Alexander Sila lahir di Denpasar, Bali, pada 2003. Sejak usia enam tahun sudah mengakrabi tuts piano. Tak heran, sebab sejak bayi biasa mendengar lagu-lagu jazz koleksi sang ayah.

Selain itu, beranjak besar, Joey juga senang menyimak video musik di YouTube. Usia delapan tahun, ia ber-jam session dengan pianis legendaris Herbie Hancock di Jakarta.

Setahun berikutnya, Joey memenangkan grand prize di Master-Jam Fest di Ukraina yang dijejali musisi dewasa. Sejak itu, namanya makin dikenal di kalangan penikmat dan pegiat jazz.

Setahun terakhir, ia diboyong orang tuanya ke New York, berbekal bantuan dari peniup terompet legendaris Wynton Marsalis. Di akun Facebook-nya, Marsalis memuji Joey sebagai “my hero.”

Di Negeri Paman Sam, bakat Joey ditangani orang-orang yang tepat, termasuk dari Jazz at Lincoln Center. Mereka memberikan edukasi agar Joey tak sekadar piawai memainkan instrumen musik, juga mampu memberikan inspirasi bagi bocah lain seusianya.

“Kami mengalir saja. Tak pernah berharap apa pun,” kata orang tua Joey, Denny Sila dan Fara, dalam sebuah wawancara. Joey sendiri tak kalah santai. Sarannya bagi diri sendiri dan musisi lain singkat saja, “Keep playing.”

Musisi Kaliber Grammy

Merujuk biografi singkat yang disiarkan laman label rekaman Motema, disebutkan Joey menggarap debut albumnya bersama produser kaliber Grammy, Jason Olaine.

Sejumlah musisi kaliber Grammy juga mendukung pembuatan album My Favorite Things, dari Larry Grenadier (bass), Ulysses Owens Jr. (drum), juga Russell Hall (bass), Sammy Miller (drum) dan Alphonso Horne (terompet).

Sepanjang tahun ini, agenda Joey sudah padat. Ia, antara lain bakal tampil di Newport International Jazz Festival, juga melakukan tur keliling Amerika Serikat dan Eropa.

My Favorite Things berisikan lagu-lagu klasik yang diimpresikan dengan gaya khas Joey, seperti Giant Steps, It Might As Well Be Spring, dan Over The Rainbow.

Album ini menunjukan kemampuan Joey sebagai musisi jazz profesional. Indonesia, tentu saja, patut bangga memiliki pianis belia yang bakatnya diakui dunia.

Musisi Belia yang Langka

New York Times menyebut, fans Joey tak kalah banyak dibanding Wynton Marsalis, Herbie Hancock, Billy Crystal dan Bill Clinton. Seolah tak ingin menyia-nyiakan waktu, label rekaman Motema segera mengontraknya, pada 2014 lalu.

Sederet pujian pun dilontarkan untuk si imut Joey. Majalah Downbeat yang terkenal “pemilih” pun sudi memujinya, “genius.” Begitu pula Jazz Time yang melabelinya, “Magnificent.”

Boleh dibilang, pasca era Indra Lesmana, pada 1970-an, kemunculan bocah Indonesia yang jenius dan cemerlang di bidang musik, hanya bisa dihitung dengan jari.

Di belahan dunia lain, ada José André Montaño, pianis buta berusia 10 tahun asal Bolivia, serta Kojo Roney, penabuh drum berusia 10 tahun asal Brooklyn.

Selain itu, juga ada Grace Kelly (22) yang merilis album debut saksofon saat berusia 12 tahun. Sebetulnya masih banyak bocah berbakat lain, tapi yang berhasil merilis album musik cuma segelintir.[] hnf/source cnn

Editor : AF Hanafi