Beranda PENDIDIKAN

Jangan Biarkan Covid-19 Merusak Masa Depan Kita

266
Howard (Siswa Sinarmas Worid Academy) Sebagai Presiden Kegiatan Sosial United We Ball

Seiring dengan perkembangan dunia, dan persaingan kerja yang semakin ketat, peran pendidikan tinggi pun semakin krusial. Ijazah sekolah menengah atas (SMA) sudah tidak lagi cukup untuk menjamin masa depan yang nyaman dan menjanjikan. Pendidikan tinggi dianggap sebagai titik penentu kesempatan sukses di masa depan; seolah-olah semakin prestisius universitasmu, semakin menjanjikan masa-depanmu

Perjalanan menuju universitas prestisius menjadi proses imperatif yang terasa panjang dan menyeramkan bagi banyak murid SMA. Dengan merebaknya wabah COVID-19, proses ini menjadi lebih menantang. Anak dan orangtua dihadapkan dengan masalah baru yang belum pernah dihadapi sebelumnya, dan tanpa adanya bimbingan ataupun informasi yang cukup, besar kemungkinan terjadi kebingungan yang membuat kita mengambil keputusan gegabah yang kurang tepat. 

Sekolah Sinarmas World Academy (SWA) memiliki departemen University Guidance Counsellor (UGC), yang berperan khusus untuk membimbing dan mempersiapkan murid memasuki universitas prestisius. Secara keseluruhan, 90% dari murid SWA memilih melanjutkan kuliah di luar negeri, dan pada tahun 2019 sendiri, lebih dari 50% lulusan SWA berhasil mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah di luar negri.

STANISLAV, KONSELOR SINARMAS WORLD ACADEMY MEMBERIKAN BIMBINGAN

Berikut merupakan tips sebagai bekal siswa untuk masuk ke universitas prestisius di dunia berdasarkan pengalaman kami:

1. IDENTIFIKASI POTENSI SEDINI MUNGKIN

Tidak ada kata terlalu dini dalam persiapan. Di SWA sendiri, anak sudah diajak berdiskusi soal masa depan dari kelas 6. Orangtua dapat berdiskusi dengan guru untuk mendapatkan informasi lengkap tentang perkembangan pembelajaran anak selama di sekolah.

Dengan informasi yang menyeluruh, orangtua dapat mendapat gambaran tentang minat dan bakat anak. Luangkan waktu untuk mencari tahu apa yang menjadi passion anak, dan apa yang paling disukai dalam kegiatan bersekolah. 

Saat anak kelas 6, besar kemungkinannya mereka belum ada bayangan tentang masa depan mereka, disinilah orangtua dan sekolah harus bekerja sama dalam membimbing dan bukan mendikte. Bimbing anak untuk dapat menggali potensi diri mereka, dan analisa bersama dimanakah kekuatan mereka sebagai seorang individu.

Sewaktu anak sudah di kelas 8, mereka sudah lebih matang dengan pilihan mereka, dan pemilihan jurusan sudah dapat difokuskan. Pada saat inilah orangtua dan sekolah bisa membantu mereka dalam membangun portofolio 4-tahun mereka.

 2. KESEIMBANGAN AKADEMIK DAN NON-AKADEMIK

Pencapaian akademis tidak lagi cukup untuk masuk ke universitas prestisius di dunia. Sebagai gambaran, universitas prestisius di dunia memiliki nilai penerimaan murid dibawah 15% yang berarti dari 1,000 aplikasi yang masuk hanya 150 murid yang berhasil diterima. Portofolio yang menarik tidak hanya menonjolkan kebolehan nilai akademis, namun juga harus memperlihatkan kegiatan non-akademik mereka.

Dibutuhkan seni tersendiri untuk dapat membuat murid menyadari bagaimana kegiatan non-akademik ini dapat terkait dan menjadi penunjang bagi akademis mereka. Di sinilah diperlukan peran guru untuk membantu dan mendampingi murid-muridnya. Hal lain yang menjadi pertimbangan dari Universitas prestisius adalah mempedulikan nilai kemanusiaan dan dampak sosial yang dilakukan.

Vijjasena, murid SWA yang berhasil diterima dan mendapatkan beasiswa di beberapa universitas Ivy League Amerika: Princeton, Columbia, Yale dan Dartmouth, bukan hanya fokus mengejar nilai akademik, tapi juga menginisiasi banyak kegiatan non-akademik yang mempunyai nilai sosial tinggi.

Salah satu kegiatan yang dibuat adalah LETUS-CLUB, dimana dia dan teman-temannya menggalang dana untuk membantu panti jompo mengadaptasi teknologi pencahayaan tenaga surya. Vijjasena membangun portofolionya berbasiskan kesimbangan antara prestasinya secara akademik di bidang sains dan kegiatan sosial yang mengadopsi energi terbarukan.

Beda lagi dengan Howard, siswa SWA yang berhasil diterima di 3 dari daftar universitas terbaik dunia (Imperial College, UCL,Tsinghua University); selain berprestasi dalam akademik, dia juga aktif menjadi presiden dari klub sekolah UNITED WE BALL. United We Ball merupakan klub basket yang fokus mengajarkan olahraga basket ke warga sekitar yang kurang mampu dan tidak memiliki fasilitas untuk bermain basket.

Kepedulian yang dipupuk dalam diri siswa siswi sejak dini di sekolah, dapat menjadi dorongan para generasi muda ini untuk melakukan inisiatif-inisiatif yang dapat berkontribusi bagi lingkungan sosialnya terutama di saat COVID-19 menghantam dunia.

 3. KONSISTENSI PORTOFOLIO

Hampir semua sekolah dan kurikulum mengharuskan murid membuat proyek di   setiap mata pelajaran. Tapi bagaimana cara agar proyek-proyek ini dapat  berkontribusi ke dalam portofolio anak? SWA sendiri memastikan pada saat anak mencapai kelas 8, setiap proyek yang dilakukan memiliki benang merah dan konsistensi yang jelas dalam pembentukan portofolio akhir mereka. Penting agar anak terus mendapatkan bimbingan, melalui orangtua maupun sekolah, dalam pembuatan portofolio mereka yang seiring waktu akan bertambah.  

Tidak sedikit anak yang memulai pembuatan portofolio di akhir SMA, ini merupakan kesalahan yang fatal. Portofolio di SWA sendiri dimulai dari kelas 8, yang berarti pada akhir SMA, murid memiliki 4-tahun portofolio yang konsisten dan berkesinambungan.

Peran orangtua dan sekolah sangat penting dalam perencanaan portofolio, karena anak akan banyak fokus dalam pembuatan proyek dan tidak sulit untuk kehilangan gambaran besar dari portofolio mereka. Sebagai pengamat dan pembimbing, orangtua dapat selalu bertanya kembali kepada anak, bagaimana proyek mereka dapat merealisasikan tujuan akhir mereka.

 4. PERENCANAAN FINANSIAL

Tidak dipungkiri, pendidikan tinggi di universitas prestisius di dunia memerlukan biaya yang tidak sedikit. Hal ini membuat perencanaan sedini mungkin lebih penting lagi untuk orang tua mempersiapkan dana pendidikan.

Sebagai gambaran, biaya kuliah di universitas Ivy League bisa mencapai 1 milyar rupiah per tahunnya. Namun, jangan biarkan keterbatasan finansial menghalangi potensi anak. SWA sendiri selalu mengajak orangtua berdiskusi perihal kesiapan finansial dalam memilih universitas anak, dan menyiapkan beberapa skenario terbaik dan terburuk.

Sekolah mengambil peran dalam menyiapkan anak mengejar beasiswa, dan meringankan beban finansial orang tua. Selain itu, SWA sendiri menawarkan beasiswa penuh untuk anak berprestasi yang mempunyai mimpi besar. Vijjasena dan Howard merupakan anak beasiswa SWA yang berhasil mendapatkan beasiswa di  beberapa universitas terbaik di dunia.

Dengan persiapan dan perencanaan yang matang, kuliah di universitas prestisius di dunia bukanlah hal yang mustahil. Bukan juga hal yang tidak mungkin mendapatkan beasiswa dari universitas terbaik di dunia. Namun dibutuhkan komitmen, kerja keras dan kerjasama dari anak, orangtua dan sekolah.

Informasi diatas diharapkan dapat membantu anak dan orangtua dalam      mempersiapkan diri ke universitas terbaik yang ada. Vijjasena dan Howard, akan membagikan lebih banyak informasi melalui Webinar yang akan diadakan pada tanggal 29 April 2020 (untuk informasi lebih bisa dilihat di akun instagram sekolah @swa_jkt). Webinar ini GRATIS dan merupakan bentuk kepedulian mereka untuk menginspirasi dan membantu generasi muda lainnya yang mempunyai impian yang besar, dimulai dengan mempersiapkan diri masuk ke universitas terbaik dunia.

Penulis: STANISLAV SOEK – Konselor Universitas dan Karir, Sekolah Sinarmas World Academy