Home / SUARA BANTEN / KOTA TANGSEL / Gepeng dan Anak Punk Terjaring Razia Dinsosnakertrans dan Satpol PP

Gepeng dan Anak Punk Terjaring Razia Dinsosnakertrans dan Satpol PP

Pamulang, SUARA TANGSEL — Seorang wanita tua renta asal Cirebon terjaring razia yang dilakukan oleh petugas Dinas Sosial Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans), wanita tua ini kedapatan sedang mengemis di kawasan Gaplek, Kecamatan Pamulang, Ia kemudian dibawa oleh petugas Satpol PP Kota Tangsel ke panti sosial untuk mendapatkan pembinaan.

Saat ditanyai wartawan siapa nama aslinya, nenek tua berkerudung dengan membawa sebatang tongkat di tangan itu mengaku bernama Nenek Lampir (85). “Nama saya Nenek Lampir tinggal di lapangan kosong, baru kali ini saya kena razia” ungkapnya.

Razia dilakukan petugas karena banyaknya laporan warga yang resah terhadap keberadaan gepeng dan juga anak punk, lantaran mereka di anggap meresahkan khususnya anak punk yang kerap melakukan perbuatan tidak menyenangkan di dalam agkutan umum.

Nenek Lampir terjaring razia bersama belasan gelandangan dan pengemis (gepeng) lainnya, serta anak punk. “Kita merazia di dua titik lokasi, Serpong dan sekitaran Pamulang sampai Ciputat, sasarannya anak punk dan gepeng,” kata Koordinator Lapangan Satpol PP Kota Tangsel, Rastra Yudhatama, Selasa (20/10).

“Banyak laporan yang mengaku resah karena anak punk melakukan pelecehan terhadap penumpang di daerah Gaplek. Makanya jadi sasaran kita,” terang Yuda.

Mayoritas gepeng dan anak punk yang terjaring razia berasal dari luar wilayah Tangsel. Belasan gepeng dan anak punk itu pun rencananya akan dibina.

“Untuk pengemis dan anak jalanan kita akan bawa ke yayasan di Pasar Rebo maupun Bekasi. Nah kalau anak punk ini sementara bakal dibina dulu, karena yayasan menolak menerima anak punk,” terang Teddy Darmadi, Kepala Seksi Sosial Anak, Lanjut usia, dan Orang Terlantar Dinsosnakertrans Kota Tangsel.

Menurut Teddy, alasan yayasan menolak menampung anak punk lantaran mereka kerap berulah. “Tahun lalu saja laporannya banyak yang merusak fasilitas di yayasan, makanya banyak yayasan yang menolak untuk membina anak punk” kata Teddy.

Terlebih, anak punk ini pun tidak ada anggaran pembinaan oleh Kementerian Sosial. ”Di Kementerian pun tidak ada pembinaan untuk anak punk, mereka itukan komunitas bukan anak jalanan, sehingga kitapun bingung harus seperti apa, sehingga saat ini perlu dilakukan pembinaan,” terangnya.

Di Kota Tangsel memang banyak terdapat gepeng. Terutama di jalan-jalan besar dan kawasan elite seperti Bintaro dan BSD. Hampir di setiap perempatan atau lampu merah, para pengemis ini mencari nafkah berharap recehan dari para pengendara yang melintas.

Begitu juga anak punk. Mereka biasanya nongkrong di tempat angkutan kota ngetem atau di perempatan-perempatan. Saat ada angkot melintas, anak punk ini pun masuk ke dalam untuk ngamen. Namun tak jarang di antara mereka malah meresahkan para penumpang.(*/itas)

Check Also

Disdukcapil Tangsel Jemput Bola

Suara Tangsel_ Sistem jemput bola pelayanan keliling ke masyarakat di lakukan Dinas Kependudukan dan Catatan ...

suaratangsel.com