Beranda HUKUM & PERISTIWA

Dipicu Pamflet, Mahasiswa UNPAM Diduga Jadi Korban Pengeroyokan

887

Tangerang Selatan, SUARA TANGSEL – Ramai di beritakan oleh media terkait adanya pertikaian antar organisasi kampus di Universitas Pamulang (UNPAM) membuat perbedaan pandangan hingga berujung penganiayaan.

Dalam konferensi pers yang digelar di kantor Lembaga Bantuan Hukum Nata, di Jalan Rawa Buntu, Serpong, Tangerang Selatan (Tangsel), pada Rabu (21/10) dihadiri oleh dua korban yang diduga alami penganiayaan. Yaitu, Ketua Himpunan mahasiswa (HIMA) Elektro Unpam Fransiskus Jonathan dan Ketua HIMA Manajemen Unpam Rizal. Serta perwakilan HIMA lintas fakultas di Unpam untuk memberikan dukungan.

Dalam keterangannya Fransiskus salah satu korban penganiayaan menjelaskan, bahwa peristiwa pertikaian tersebut tersulut lantaran penolakan untuk ikut aksi unjuk rasa di Jakarta.

“Bermula dari pemasangan pamflet menolak aksi. Dengan nada tinggi mereka meminta penjelasan. Lalu kami jelaskan, alasan kami menolak aksi karena masih dalam masa pandemi. Dan juga, kami memiliki pengalaman saat ikut aksi besar pada tahun kemarin, kami di telantarkan di lokasi kejadian. Bahkan rekan kami yang di tangkap aparat tidak di bebaskan oleh mereka,” tegas Fransiskus

Ia menambahkan, sebelum aksi penganiayaan terjadi, para terduga pelaku sempat mengancam korban dan ingin memecahkan kepala korban lantaran tersinggung oleh bahasa di pamflet yang bertuliskan “Jangan Mau Dibodohkan Oleh Oknum Mahasiswa Yang Tidak Bertanggung Jawab,”

“Kami sempat berdebat tentang menjelaskan arti bahasa di pamflet yang terpampang. Namun mereka tetap tidak mau menerima penjelasan kami, mereka sempat menarik salah satu rekan kami, mereka mendesak agar kami segera klarifikasi. Padahal kami sudah bersepakat untuk melakukan klarifikasi esok harinya pukul 14.00 Wib. Dan apabila kami tidak menepati janji silahkan untuk mensomasi himpunan mahasiswa (Hima) kami,” ucapnya

Masih menurut Fransiskus, jumlah yang tak sebanding membuat dirinya dan rekan sefakultasnya menjadi sasaran emosi para oknum mahasiswa, dan dugaan penganiayaan tersebut tak dapat terhindarkan.

“Kami perkirakan jumlah mereka sekitar 20 sampai 30 orang. Sedangkan kami hanya 20 orang. Itupun kami bercampur dengan beberapa orang mahasiswi dari anak anak management,” sanggahnya.

Dihadiri oleh perwakilan HIMA lintas fakultas di Unpam bermaksud untuk mendukung Universitas Pamulang untuk menindak tegas pelaku pengeroyokan sesuai kode etik dan tata tertib mahasiswa.

Melalui laporan polisi dengan nomor : 1349, para korban yang diduga dianiaya oleh oknum mahasiswa tersebut berharap, agar terduga pelaku penganiayaan tersebut mendapatkan efek jera dari perbuatannya.

Sementara itu, Muhammad Syafi’i, selaku kuasa hukum dari korban penganiayaan yang terjadi di kantin kampus Universitas Pamulang beberapa waktu lalu memaparkan, adanya informasi yang simpang siur membuat kliennya di rugikan.

“Tujuan kami melakukan konferensi pers ini untuk meluruskan informasi yang beredar. Kemudian, kami diminta untuk memproses sampai dengan meja hijau dengan harapan mendapatkan keadilan,” terang pria yang akrab di sapa Salim.

Di katakan Salim, perkara tersebut merupakan murni persoalan hukum pidana. Menurutnya, tidak usah di kaitkan dengan persoalan internal kampus.

“Kesimpulannya, tidak benar klien kami ini melakukan pemukulan lebih dulu. Maka kami luruskan kabar yang beredar di media. Dan klien kami sudah melaporkan kejadian tersebut ke pihak Polres Tangsel. Kami berharap, laporan tersebut dapat di tindak lanjuti ke proses peradilan sehingga para korban ini mendapatkan keadilan,” ujar Salim di kantor Lembaga Bantuan Hukum Nata, Jalan Rawa Buntu, Serpong, Tangerang Selatan.

Lebih lanjut Salim menegaskan, para terduga pelaku pengeroyokan tersebut yang sementara di amankan oleh polres Tangsel sebanyak lima (5) orang, ia berharap, seluruhnya yang diduga terlibat pelaku penganiayaan dapat di mintai pertanggung jawabannya.

“Menurut info yang di sampaikan ke kami itu lebih dari 5 orang pelaku ya, tentu kami serahkan proses ini kepada penyidik. Tentunya mereka lebih paham. Berapa pelaku yang ikut melakukan penganiayaan. Intinya kami mengutuk keras aksi kekerasan yang di lakukan oleh oknum mahasiswa ini,” bebernya

Pihak dari kuasa hukum korban pun berharap kepada pihak kampus untuk segera menindak tegas terhadap perbuatan para oknum mahasiswa yang telah mencoreng nama baik Universitas Umpam di masyarakat, dan juga merusak nama Universitas Pamulang. (Mhd/Adt)