Beranda BUDAYA LIFESTYLE & ARTIS

Depok Night Parade: Opera Depok

555
depok-night-parade

Depok, SUARA TANGSEL – Drama kolosal Opera Depok akan mewarnai Depok Night Parade yang berlangsung pada 16-18 Desember 2016. Opera mengangkat sejarah Kota Depok itu akan dipentaskan pada 17 Desember 2016 pukul 19.00. Pertunjukan yang disutradarai Asrizal Nur berdasarkan ide cerita dari H. Nuroji itu diproduksi oleh Dewan Kesenian Depok.

“Kami mengangkat sejarah Kota Depok agar warga Depok  tidak lupa akan sejarah kotanya. Ini sekaligus memperkenalkan Depok kepada publik luas. Sebab yang akan menonton Depok Night Parade itu tak hanya dari Depok,” kata Nuroji yang juga Ketua Umum Dewan Kesenian Depok.

Diharapkan dengan tahu sejarah, warga Depok akan makin mencintai kotanya. Sebab, selama ini, sebagian warga Depok lebih menjadikan Depok sebagai tempat tinggal, belum merasa memiliki Depok. Akibatnya, mereka kurang peduli pada persoalan-persoalan yang terjadi di Depok, termasuk persoalan seni budaya. “Ironisnya pemerintah daerah sendiri kurang memberi apresiasi terhadap sejarah, kebudayaan dan pelaku budaya di Depok.” Salah satu indikatornya, menurut Nuroji, hingga kini nasib Dewan Kesenian Depok (DKD) masih terkatung-katung. Padahal, Dewan Kesenian punya posisi strategis dalam mengembangkan seni dan kebudayaan di Depok, termasuk mendorong kreativitas para pelaku seni budaya itu sendiri.

“Semoga pertunjukan Opera Depok bisa menyentuh kesadaran semua pihak untuk mencintai dan mengapresiasi sejarah dan kebudayaan Depok,” ujar Nuroji yang juga anggota Komisi X DPR-RI ini.

Sutradara Opera Depok Asrizal Nur mengatakan pertunjukan berdurasi 35 menit ini menceritakan tentang perjalanan Kota Depok, dari pertengahan abad 16, saat ditemukannya Gong (Gong Si Bolong), ikonnya Kota Depok, hingga Depok menjadi Kota Otonom dengan wali kota otonom pertama H. Badrul Kamal. “Dalam pertunjukan ini akan kita saksikan peran penting para tokoh dalam sejarah Depok seperti Mat Depok, Margonda, Thole Iskandar dan JW Karundeng,” tutur Asrizal.

Dalam pertunjukan ini juga akan terlihat bagaimana seorang pejabat tinggi VOC, Cornelis Chastelein, membeli tanah yang luas di Depok pada akhir abad 17. Adu pula bagian yang menceritakan bagaimana terbentuknya nama-nama daerah, antara lain Pondok Cina. Drama Kolosal ini didukung hampir 100 orang yang tergabung di beberapa komunitas, antara lain Betawi Ngumpul, Sanggar Larasati, Sanggar Kinang Putra, Rumah Seni Asnur, Forum Pembauaran Kebangsaan (FPK), Sekolah Master dan ibu-ibu yang tergabung dalam PIRA (Perempuan Indonesia Raya).

Opera Depok digarap seniman-seniman nasional. Naskah dan sutradaranya langsung dipegang Asrizal Nur, seniman yang spesialis menggarap acara kolosal. Asrizal antara lain pernah sebagai konseptor dan sutaradara Pembukaan dan Penutupan MTQ Provinsi Kepulauan Riau 2012, Pembukaan dan Penutupan MTQ Provinsi Riau 2013, Festival Pantun Asia Tenggara 2006, Pekan Presiden Penyair Internasional 2007 dan lain-lain.

Adapun ilustrasi musik digarap musisi ternama Indonesia, Koko Thole.  Gerak ditata oleh Andi Supandi (Andi Topeng), penata tari Topeng Cisalak yang telah keliling dunia. Tampil pula penari berkaliber internasional,  Rosmala Sari Dewi, sebagai penari penari opening. Selain itu ada pula Jimmy S johansyah aktor yang pernah tergabung di Teater Keliling yang dipercaya sebagai penata laku.

Menurut Asrizal, sejarah Depok yang lengkap digelar dalam bentuk pertunjukan teater, tari dan musik ini baru pertama kali dilakasanakan di kota Depok yang sarat dengan sejarah ini. “Sehingga dapat memberikan apresiasi masyarakat terhadap seni budaya sekaligus sejarah kota Depok. Masyarakat tidak hanya disuguhkan hiburan belaka tetapi juga pencerahan.”

Asrizal yang juga Ketua Harian Dewan Kesenian Depok ini menambahkan sudah saatnya Depok memperbanyak acara-acara kolosal, spektakuler dan bergizi yang melibatkan masyarakat sebagai pemain bukan sekedar penonton. Sehingga kegiatan-kegiatan ini benar menjadi gerakan kebudayaan di Kota Depok. “Opera Depok diselengarakan tanda bantuan dana sepeserun dari pemerintah Depok,” kata Asrizal lagi.

Ia berharap pertunjukan yang disiapkan dengan latihan marathon hanya selama lima hari ini dapat menggugah pemerintah untuk peduli pada budaya dan memperhatikan kreativitas seniman, di antaranya dengan segera membangun gedung kesenian sebagai pusat kreatifitas seniman Depok. “Depok memiliki jumlah seniman nasional terbesar nomor empat di Indonesia setelah Jakarta, Yogyakarta, Bali dan Bandung.”

Ketua Program Dewan Kesenian Depok Mustafa Ismail menambahkan sebetulnya lembaga itu telah menyiapkan sejumlah program kerja untuk memajukan seni dan budaya di Depok, namun hingga kini masih terkendala sejumlah hal. Salah satunya belum dikukuhkannya kepengurusan baru Dewan Kesenian Depok oleh Pemerintah Kota Depok. “Ini menjadi kerikil bagi kami untuk bergerak. Padahal keberadaan lembaga Dewan Kesenian itu sangat vital dalam merumuskan strategi dan pengembangan seni dan budaya di sebuah daerah,”ujar Mustafa yang dikenal sebagai penyair ini.

Belum merasa memilikinya pemerintah Depok terhadap seniman-seniman nasional yang berada di Depok, membuat mereka kini lebih banyak mewakili daerah lain untuk tampil di acara-acara nasional dan internasional. “Saya sendiri tidak pernah mewakili Depok untuk kegiatan-kegiatan kesenian dan kebudayaan. Tapi lebih sering menjadi utusan provinsi lain, seperi Jakarta.”

Begitu pula sastrawan seperti Sihar Ramses Simatupang, Endang Supriyadi, Asrizal Nur, Ngarto Februana, Dianing Widya, Jimmy S Johansyah, Iman Sembada, dan lain-lain itu. “Mereka tidak pernah mewakili Depok untuk tampil di forum-forum nasional maupun internasional. Padahal mereka tinggal dan ber-KTP Depok,” tutur Mustafa yang baru menerbitkan buku puisi terbarunya “Tuhan, Kunang-kunang & 45 Kesunyian.”  (r/obi)