Home / RESENSI / BUKU / Dawai Cinta di Tumaritis, Novel Cinta Dibalut Ilmu dan Perspektif Agama
Novel Dawai Cinta di Tumaritis

Dawai Cinta di Tumaritis, Novel Cinta Dibalut Ilmu dan Perspektif Agama

Jakarta, SUARA TANGSEL – Sukses meluncurkan novel religi pertamanya “Ada Cinta di Tumaritis” Da’iyah dan Novelis Kinkin Mulyati kembali meluncurkan novel keduanya dengan judul “Dawai Cinta di Tumaritis” yang merupakan kelanjutan cerita dari novel pertamanya.

“Sesuai judul novel Dawai Cinta di Tumaritis, kata “dawai” dapat berarti berduri, berliku-liku atau bergelombang, maka kisah dalam novel kedua ini pun demikian, penuh gejolak maupun problem kehidupan yang membutuhkan penyelesaian.” Jelas Novelis yang beberapa tulisannya telah dijadikan referensi akademik dan dibaca oleh puluhan ribu pengunjung blognya.

Menurut Kinkin, masalah yang diangkat dan jadi tema cerita pada setiap bagian dalam novel religinya itu masih diperankan oleh sebagian besar tokoh sentral dalam novel pertamanya “Ada Cinta di Tumaritis”.

Novel keduanya ini benar-benar mengaduk-aduk rasa, kadang membuat kita yang membaca merasa tertawa geli, sedih dan bahagia karena larut dalam kisah yang seolah kita sendiri ada dan menjadi bagian dari cerita dalam novel yang sarat akan pesan agama, moral dan kritik sosial ini.

Novel setebal 393 halaman dan terdiri dari 15 bagian ini menyimpan banyak kisah yang dapat ditemui dalam kehidupan empirik saat ini.

Lalu, apakah cerita dalam novel “Dawai Cinta di Tumuritis” akan berlanjut sebagaimana cerita pada novel sebelumnya “ Ada Cinta di Tumaritis”? Penulis novel yang juga seorang Da’iyah ini mengatakan,”Pasca peluncuran novel kedua banyak permintaan dari para pembaca untuk melanjutkan cerita dalam novel seri cinta di Tumaritis,” ungkapnya. Lagi, kata Kinkin, “…yang terpenting dari karya sastra ini adalah pesan-pesan dakwah yang ingin ia sampaikan dalam bentuk novel, lihat saja nanti,” ujarnya. 

Karya sastra dalam bentuk novel ini pun diapresiasi oleh Hj Faizah Alamudi, Teacher in Indonesian School KBRI Cairo, IPQI Al-Azhar Cairo, and For Wife of Ambassador (Indonesia, Malaysia, Brunai ), Da’wah Tausiah Islamiyah in Cairo and Europe, dalam testimoninya menyampaikan, “Novel ini merupakan sebuah karya sastra yang berorientasi pada pembentukkan akhlak dan intelektual Islam,” tulis Faizah.

Qoriah Internasional ini pun mengatakan, “Saya terlena membacanya hingga tak terasa sampai akhir cerita. Karena itu, saya yakin bahwa novel karya Kinkin Mulyati ini akan menjadi perekat antara para remaja dan orang tua untuk lebih memiliki pedoman dalam menentukan teman hidup sesuai dengan dalil al-Qur’an dan Hadis yang menuntun kita ke kehidupan yang bahagia. Banyak hal yang dapat diambil dari novel ini, semoga bermanfaat,”kata Hj Faizah.

Sementara, Mohammad Syifa A. Widigdo, Kandidat Doktor di Department of Religious Studies, Indiana University-Bloomington, Indiana, USA. Dalam testimoninya mengatakan, “Kisah cinta yang dibalut dengan ilmu dalam novel ini tidak hanya menyuguhkan drama kehidupan cinta yang kompleks, tapi juga pencerahan tentang etika pergaulan, fikih pernikahan dan rumah tangga, serta perspektif agama dalam ketegangan wilayah domestik dan publik bagi seorang perempuan.”

Senada, KH. Arif Hidayat, Katib Nahdlatul Ulama PC NU Tangerang, Direktur Yayasan Mantiqu al-Karim (Manhaju Ta’limi al- Qur’ani al-Karim). Dalam testimoninya juga mengatakan, “hanya ada satu kata “siapapun layak membaca novel ini.”

Menurut Kyai NU ini, umumnya sebuah novel itu hanyalah mengaduk-ngaduk rasa dalam hati, tapi novel ini bukan hanya mengaduk-aduk rasa tapi juga menjadi “suplemen” ilmu bagi pembacanya. Pada halaman 112, dimulai lagi daya tarik novel ini melalui permainan rasa dari penulis dengan perkataan, “Namun yang mengagetkan mereka adalah hadirnya seorang perempuan yang tak asing lagi bagi mereka.” Kita pun dapat mengambil pelajaran dari kisah dalam novel ini, bagaimana orang-orang saleh menghadapi, menyelesaikan dan merespon berbagai gejolak dalam kehidupan rumah tangga.

Begitu juga Ahmad Mudzakir, S.Pd, M.Si. Dosen, Penceramah, Pengembang Sekolah di Dompet Dhuafa Social Enterprise. Dia mengapresiasi novel “Dawai Cinta di Tumaritis” dengan mengatakan, “Saat ini begitu mudah kita dapatkan referensi bacaan di media cetak, elektronik, tontonan di televisi dan media online, bahkan broadcast melalui gadget. Semua bisa pengaruhi mindset pembaca. Terlalu banyak sajian yang bersifat negatif, yang apabila terus dijejalkan pada otak, maka kita tak bisa lagi membedakan mana hiburan dan mana pembelajaran, mana tontonan dan mana tuntunan. Melalui novel ini, nampaknya penulis ingin menyampaikan pesan-pesan tentang tuntunan berkasih sayang dalam kehidupan kita. Membacanya membuat saya seperti larut dalam tontonan yang mengandung tuntunan. Membacanya pun membuat saya tersenyum-senyum sendiri, tertawa dan mengangguk-angguk.”

Tak hanya menyajikan cerita cinta yang dikemas dalam nilai-nilai Islam, beberapa cerita di dalamnya juga secara solutif dan komparatif dipersandingkan dengan hukum positif yang berlaku di Indonesia saat ini.

Derri Anugerah Rachman, SH. Pegawai Kementerian Sekretariat Negara RI, sedang menempuh pendidikan S2 Master of Public Administration (Management) di Flinders University, Australia, menyampaikan hal tersebut.

“Ketika mulai membaca novel “Dawai Cinta di Tumaritis” saya ingin cepat meneruskannya hingga halaman terakhir. Dalam novel ini, penulis mengisahkan beberapa episode dalam sebuah pernikahan. Saya kira novel ini akan sangat bermanfaat bagi setiap insan yang akan memasuki gerbang pernikahan dan juga pasangan suami isteri muda di masa kini, mengenai bagaimana menjalani dan menyelesaikan konflik dalam bahtera rumah tangga secara islami. Selain itu, penulis dengan latar belakang sarjana hukum Islam menggambarkan beberapa permasalahan hukum pernikahan dalam Islam yang dikomparatifkan dengan hukum positif yang berlaku di Indonesia, hal ini merupakan kelebihan tersendiri dari novel ini. Sangat inspiratif, muda-mudi Indonesia sangat perlu membaca novel ini dan temukan nilai-nilai indahnya!”

Karena itu, baik Hj. Faizah Alamudi, Mohammad Syifa A Widigdo, KH. Arif Hidayat, Ahmad Mudzakir dan Derri Anugerah Rachman yang berbeda latar belakang pendidikan maupun profesi ini mengatakan novel “Dawai Cinta di Tumaritis” layak dibaca dan dijadikan referensi oleh semua pihak, terutama bagi para muda-mudi atau orang tua yang ingin mengantarkan putra putrinya ke jenjang penikahan.

(Ibnu)

 

Check Also

KKI Gelar Buka Puasa Bersama Relawan

Bagikan melalui WhatsAppPondok Aren, SUARA TANGSEL – Komite Kemanusiaan Indonesia (KKI) menggelar buka puasa bersama ...

suaratangsel.com