Beranda TOPIK UTAMA NASIONAL

Coretan Dinding, Benarkah Meresahkan?

1388

Kota Tangsel, SUARA TANGSEL – “Coretan di dinding membuat resah
Resah hati pencoret mungkin ingin tampil. Tapi lebih resah pembaca coretannya,…”

Penggalan lirik lagu ‘Coretan dinding’ dari penyanyi legendaris Indonesia, Iwan Fals di atas tersebut sedikit banyak telah menggambarkan kondisi saat ini terkait coretan dinding atau lebih dikenal dengan istilah ‘mural’ yang marak bermuculan di beberapa kota di Tanah Air seperti di Yogyakarta, Bandung, Kota Tangerang, dan beberapa kota lainnya.

Sebagian besar dari mural tersebut dinilai berkaitan dengan kondisi masyarakat di masa pandemi Covid-19 saat ini. Narasi mural yang disampaikan masih berkaitan dengan perasaan warga yang mengkritik situasi penanganan pandemi.

Sebagai contoh adalah mural di Jalan dr Cipto Mangunkusumo, Kecamatan Ciledug, Kota Tangerang, Banten yang bertuliskan: “Wabah Sesungguhnya adalah Kelaparan“.

Kemunculan mural berbahan cat semprot tersebut diduga sebagai bentuk sindiran bahwa ditengah pandemi COVID-19, wabah paling berbahaya sesungguhnya adalah kelaparan. 

Terkait keberadaan mural itu warga setempat mengaku tidak mengetahui siapa yang membuatnya. Bahkan, jika tidak dilakukan penghapusan oleh Satpol PP, warga tidak terlalu memperhatikan mural tersebut.

“Saya kalau enggak diberitahu enggak tahu itu ada mural sindiran. Kalau siang, orang yang coret-coret begitu pasti enggak ada, ini pasti malam,” kata Surono warga sekitar sebagaimana dikutip oleh salah satu media lokal di Tangerang, 17 Agustus 2021 lalu.

Karena dinilai meresahkan, akhirnya petugas Satpol PP Kecamatan Ciledug langsung bertindak cepat dengan menghapus mural tersebut, dengan jurus telah melanggar Perda Nomor 6 Tahun 2011 tentang Ketertiban Umum (Tibum).

Sementara itu, Dr Tantan Hermansah, pengamat sosial dari UIN Syahid Jakarta, mengatakan, hanya yang merasa terganggu saja dengan pesan yang disampaikan mural itu yang terganggu.

“Herannya, di jaman penjajah saja, banyak mural yang mengeritik, tidak dihapus dan tidak sampai mengejar-ngejar pelakunya. Namun saat ini, yang terjadi terkesan berlebihan,” kata Tantan Hermansyah, kepada www.suaratangsel.com. Kamis (26/8/2021).

Lebih lanjut, kata Tantan, mural adalah ruang kreasi yang sudah berlangsung sejak lama. Bahkan mural sudah lama dibuat selama manusia ada. Ditemukannya mural di dinding kuno menunjukkan bahwa salah satu dari fungsi mural ini adalah edukasi dan dokumentasi.

“Ketika mural menjadi ruang edukasi, maka berbagai konten bisa dimasukkan di dalamnya. Salah satunya adalah melakukan kritik atas situasi,”  

“Kritik yang dibuat pada mural sudah lama dilakukan. Bahkan sejak jaman penjajah, kritik  yang ditulis di mural saat itu dalam rangka meraih kemerdekaan. Mural digunakan sebagai media penyampai pesan penyemangat melawan penjajah, seperti mural “Merdeka ataoe Mati” misalnya. Dalam hal ini, mural memiliki makna dan pesan dalam setiap keberadaaannya yang mencitrakan kondisi sosial dan budaya di sekelilingnya, juga citra estetik,” pungkas Tantan. (1st)