Beranda TOPIK UTAMA INTERNASIONAL

Caplok Tepi Barat, 320 Tokoh Amerika Latin Menyerukan Sanksi untuk Israel

157

Brasilia, SUARA TANGSEL  Lebih dari 320 cendekiawan, mantan presiden dan legislator dari Amerika Latin bergabung dalam aksi mengutuk rencana aneksasi Israel atas wilayah Palestina yang diduduki.

Dalam sebuah pernyataan bersama, para tokoh masyarakat tersebut mengatakan, “semakin parahnya pelanggaran Israel dan impunitasnya memaksa kami untuk menjawab seruan yang dibuat oleh sebagian besar organisasi masyarakat sipil Palestina.”

“Kami mendukung tuntutan rakyat Palestina untuk mengakhiri perdagangan senjata dan kerja sama militer dan keamanan dengan Israel; mencabut perjanjian perdagangan bebas dengan Negara itu; melarang perdagangan dengan permukiman ilegal Israel; dan meminta pertanggungjawaban individu dan aktor koperatif, yang terlibat dengan rezim pendudukan dan apartheid tersebut.“

“Kami berkomitmen untuk bekerja, dalam kerangka nasional kami masing-masing, berbicara untuk implementasi langkah-langkah tersebut,” tambah mereka.

Penerima Nobel Perdamaian Argentina Adolfo Pérez Esquivel; Musisi Brasil Chico Buarque dan Caetano Veloso; mantan Presiden Luiz Inácio Lula da Silva, Dilma Rousseff (Brasil), Pepe Mujica (Uruguay), Fernando Lugo (Paraguay), Rafael Correa (Ekuador) dan Ernesto Samper (Kolombia); mantan Menteri Hubungan Luar Negeri Brasil Celso Amorim; dan Paulo Sérgio Pinheiro, mantan Sekretaris Hak Asasi Manusia Brasil termasuk di antara para penandatangan yang mencakup 60 anggota parlemen Brasil dari berbagai partai.

Aksi ini sebagai bagian dari inisiatif untuk menyatukan respon Afrika, Asia dan Amerika Latin atas aneksasi dan menyerukan sanksi terhadap Israel serta pemulihan kembali Komite Khusus PBB melawan Apartheid untuk menahan kebijakan kolonialnya.

Mantan kanselir Brazil Celso Amorim menambahkan, “aneksasi wilayah Palestina oleh Israel tidak hanya merupakan pelanggaran terhadap hukum internasional dan ancaman bagi perdamaian, tetapi juga agresi terhadap pria dan wanita yang berperang melawan kolonialisme dan apartheid.”

(1st/SPNA)