Beranda PROFIL

Buwas Menolak Hidupkan “Petrus”

486
Budi Waseso

Jakarta, SUARA TANGSEL – Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Komisaris Jenderal Budi Waseso menolak dirinya coba menghidupkan “penembak misterus”. Istilah “petrus” atau penembak misterius, memang demikian erat kaitannya dengan masa pemerintahan Presiden RI ke-2 Soeharto buat berantas premanisme.

Di era Soeharto atau orde baru, kehadiran “Petrus” begitu ampuh membuat para preman ketar-ketir. Para penembak misterius ini tidak segan menembak mati maupun menjerat preman hingga mati. Kehadiran “Petrus” di Tanah Air berawal dari muaknya Soeharto melihat kejamnnya pelaku kejahatan. Mulai perampokan, pemerkosaan, pembunuhan maupun kombinasi ketiga tindakan keji itu.

Adapun periode pasukan “Petrus” dibuat. Semua semata-mata bertujuan agar masyarakat hidup tenang tanpa ketakutan akan tindak kriminalitas. Mayat para preman sengaja dibuang hingga jadi tontonan masyarakat. Membuat para penjahat lainnya makin pucat dengan aksi para petrus.

“Secara teknis, tim kami akan bergerak setelah mengantongi data dan identitas bandar atau pengedar dari hasil penyelidikan mendalam BNN. Sehingga tidak akan salah. Karena kita berikan data setelah betul-betul diketahui target memang betul bandar atau pengedar narkoba,” tegas Budi Waseso.

“Di Malaysia dan Singapura, menerapkan hukuman mati. Bahkan kepada penggunanya. Sementara di Indonesia, penerapan hukuman mati hanya berlaku bagi bandar dan pengedar. Sementara penggunanya, hanya direhab saja,” ungkapnya.

Lemahnya penegakan hukum Indonesia dalam pemberantas narkoba nampak di depan mata. “Tengok saja kasus gembong narkoba Freddy Budiman. Sudah dihukum mati, eh tidak mati-mati dan tetap licin,” ujar Budi Waseso kesal, saat mendengar yang bersangkutan terhukum mati, disebut-sebut mampu mengendalikan peredaran narkoba nasional dari dalam penjara.

Masalah narkoba di Tanah Air, Budi Waseso menyebut sudah sampai titik nadir. Penanganan serius perlu dilakukan secepatnya agar generasi muda tidak terperosok ke lembah hitam. Ngototnya bukan sekedar gagah-gagahan.

“Kita harus sadar, jangan berkedok HAM sementara negara kita menjadi pasar subur beredarnya barang haram itu. Tidak heran bila negara ini jadi target jaringan internasional,” ujar Budi Waseso.

Mantan Kepala Badan Reserse Kriminal Mabes Polri itu mengaku sudah juga berkoordinasi dengan Kepolisian dan TNI. Dalam mengungkapkan satu modus operandi dalam kejahatan peredaran narkoba, BNN tak kuatir disebut melanggar Hak Asazi Manusia (HAM). “Mereka itu musuh negara,” ujar Buwas.

Buwas menegaskan pihaknya tak segan untuk berkonfrontasi langsung. Ia memastikan, telah mengintruksikan ke anak buahnya untuk tak ragu melakukan penembakan terhadap para pelaku kejahatan narkotika. “Mau sipil atau oknum aparat, jika nekat menjadi beking saat mau ditangkap melawan, ya kita tembak,” ujarnya.

Khususnya kepada para pengusaha hiburan, Buwas memperingati agar tak memfasilitasi penyalahgunaan maupun peredaran narkoba. “Peran rekan-rekan pengusaha, tulis daerah bebas narkoba sebagai pertanggungjawaban. Kalau tidak dan kita temukan, akan kena (Pasal) 556 KUHP (penyertaan),” ujarnya.

Para pelaku usaha perlu proaktif dan memberi berbagai peringatan dan pemeriksaan dini terhadap para pengunjung maupun karyawan di lokasi hiburannya. Para pengusaha bisa pasang di tempat masuk, misalnya ‘dilarang menggunakan narkoba’.

“Kalau diam berarti memang berkolaborasi dengan bandar atau paling tidak ada pembiaran,” tegas Buwas.”Itu penting sebagai bentuk pertanggungjawaban. Kalau tidak dan kita temukan, akan kena (dijerat pasal) 55 dan 56 KUHP (penyertaan),” Waseso menambahkan.

Buwas pernah membuktikan sendiri tempat hiburan malam begitu rentan peredaran narkoba. Mantan Kabareskrim Polri itu pernah meminta anggotanya menyamar di lima tempat hiburan yang cenderung tidak mewah.

“Uang saya kasih, semua berhasil bawa narkoba. Saya sedang telusuri, si oknum yang menjual atau di dalam disediakan, atau dari luar membawa ke dalam,” ungkap orang nomer satu BNN.(matnews)