Beranda TOPIK UTAMA NASIONAL

BMKG Sampaikan Perkembangan Cuaca Serta Mitigasi Gempa bumi dan Tsunami di Indonesia

1013

Jakarta, SUARA TANGSEL – BMKG mengadakan konferensi pers perkembangan cuaca di musim hujan tahun 2021 dan mitigasi gempa bumi, serta tsunami di Indonesia, Sabtu (23/01). Kegiatan ini dilaksanakan secara virtual melalui Zoom meeting dan live streaming via Youtube

Kepala BMKG Prof. Dwikorita Karnawati, MSc. Ph.D menyampaikan bahwa BMKG sudah memberikan peringatan dini potensi terjadinya kondisi ekstrem terkait cuaca akibat adanya beberapa fenomena. Fenomena iklim global, La Nina akibat adanya anomali suhu air laut di Samudera Pasifik mendingin dibandingkan suhu muka air laut di Indonesia yang makin hangat. Akibatnya terjadi perbedaan tekanan udara dan aliran massa udara yang masif ke wilayah Indonesia. Fenomena La Nina akan berdampak pada meningkatnya curah hujan bulanan.

“Diprediksi dari Januari sampai Maret peningkatan curah hujan sebesar 40-80% atau 300-500 milimeter. Lingkungan atau kapasitas daya dukungnya paling rentan akan mengalami banjir atau longsor bahkan banjir bandang. Sehingga dikhawatirkan akan saling susul-menyusul,” ungkap Dwikorita.

Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim BMKG Dodo Gunawan menjelaskan 94% persen wilayah Indonesia sudah mengalami musim hujan. Puncak musim hujan di setiap daerah berbeda-beda, puncaknya didominasi di Januari dan Februari. Hingga saat ini Indonesia sudah memasuki tingkat fenomena La Nina yang lemah, sekitar Maret-April akan menuju pada kondisi netral.

“Masyarakat perlu waspada terhadap potensi cuaca ekstrem pada Januari-Februari, diharapkan masyarakat selalu mengupdate informasi-informasi dari BMKG. Masyarakat juga perlu mengenali lingkungan sekitar tempat tinggal sehingga dapat mengurangi dampak dari bencana yang dapat datang sewaktu-waktu,” imbuh Kepala Pusat Layanan Informasi Iklim Terapan, Dr. Ardhasena Sopaheluwakan.

Terkait banjir di Kalimantan Selatan, data curah hujan harian BMKG menunjukkan bahwa terjadi hujan lebat hingga ekstrem di Kalimantan Selatan mulai dari 10-16 Januari 2021. Hujan ekstrem selama 6 hari berturut-turut tersebut disinyalir menjadi alasan terjadinya banjir di 10 kabupaten di Kalimantan Selatan, disamping terdapat faktor pemicu banjir lainnya seperti lingkungan.

Jumlah Kejadian Gempabumi Cukup Tinggi di Januari 2021

Kepala Pusat Gempa Bumi Tsunami, Bambang Setiyo Prayitno, M.Si mengatakan setelah terjadinya gempa bumi di Majene, gempa susulan masih akan terjadi 3-4 minggu setelah gempa bumi yang pertama. Masyarakat perlu waspada dengan kawasan perbukitan karena gempa susulan dapat memicu terjadinya longsor.

“Masyarakat yang bermukim di pesisir Majene perlu waspada jika merasakan gempa kuat agar segera meninggalkan wilayah tersebut tanpa perlu menunggu peringatan dini tsunami. Dan masyarakat dihimbau untuk tidak percaya berita hoax, serta tetap tenang dan waspada,” ujar Bambang.

Gempa kembali terjadi di Kepulauan Talaud pada Kamis (21/1) dengan kekuatan magnitudo 7,0 tidak berpotensi tsunami. Gempa ini terjadi akibat adanya aktivitas subduksi lempeng Filipina. Hingga hari Sabtu pukul 11.00 WITA telah terjadi sebanyak 4 kali gempa susulan. Dampak gempa ini tidak ada korban jiwa maupun luka-luka, hanya terjadi kerusakan ringan.

Berdasarkan data selama periode 1 hingga 22 Januari 2021 saja, BMKG mencatat gempa dirasakan sebanyak 59 kali, jumlah ini tergolong tinggi, dan hampir setiap hari terjadi gempa dirasakan. Bahkan pada 14 Januari 2021 lalu dalam sehari terjadi gempa dirasakan sebanyak 8 kali.. Zona potensi gempa yang perlu diwaspadai yaitu; Kep.Mentawai, Selat Sunda, Selatan Bali, Sulawesi Utara, Laut Maluku, Utara Papua, Laut Banda, Sesar Lembang (Jabar), Sesar Matano (Sulteng), Sesar Sorong (Papua Barat), Sesar Segmen (Aceh).

“Aman tidak aman itu relatif karena kita berada di zona aktif, wilayah kita banyak wilayah gempa sehingga yang perlu kita perkuat adalah bagaimana kita beradaptasi dengan lingkungan kita. Apa yang harus kita lakukan yaitu seperti pelatihan evakuasi, banyak sosialisasi-sosialisasi yang harus dilakukan terkait bencana. Kita harus bisa beradaptasi berada di zona rentan terhadap gempa, jangan panik tetap tenang dan selalu waspada” ujar Deputi Bidang Geofisika, Dr. Muhamad Sadly.

“Kami menghimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang menyebabkan terjadinya potensi bencana hidrometeorologi berupa banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang dan puting beliung, terutama untuk masyarakat yang berada dan tinggal di wilayah rawan bencana hidrometeorologi,” ungkap Dwikorita.

Selain itu masyarakat juga diminta tidak percaya berita bohong (hoax) untuk meninggalkan Mamuju atau kembali ke rumah masing-masing. Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang tetapi waspada, serta mengikuti informasi yang bersumber dari lembaga resmi sepeti BMKG dan arahan dari BNPB/BPBD. (**)