Beranda OPINI

Asal mula masuknya Perguruan Silat MS Jalan Enam di Pamulang

1214
Foto: Istimewa

Pamulang, SUARA TANGSEL – Pencak silat atau silat adalah suatu seni bela diri tradisional yang berasal dari Kepulauan Nusantara (Indonesia). Seni bela diri ini secara luas dikenal juga di Malaysia, Brunei, dan Singapura, Filipina selatan, dan Thailand Selatan sesuai dengan penyebaran berbagai suku bangsa Nusantara.

Seperti kita ketahui sejak jaman dahulu nenek moyang bangsa Indonesia telah memiliki cara pembelaan diri yang ditujukan untuk melindungi dan mempertahankan kehidupannya atau kelompoknya dari tantangan alam.

Mereka menciptakan bela diri dengan menirukan gerakan binatang yang ada di alam sekitar, seperti gerakan kera, harimau, ular, atau burung elang.

Asal mula ilmu bela diri nusantara ini juga kemungkinan berkembang dari keterampilan suku-suku asli Indonesia melalui cara berburu dan berperang dengan menggunakan parang, perisai, golok dan tombak. Misalnya seperti dalam tradisi suku Nias yang hingga abad ke-20 relatif tidak tersentuh pengaruh luar.

Kata “silat” sendiri merupakan istilah yang terkenal secara luas di kawasan Asia Tenggara untuk menyebut seni bela diri asal nusantara ini.

Meski demikian, masing-masing negara juga mempunyai sebutannya sendiri sesuai dengan bahasa lokal mereka seperti gayong dan cekak di (Malaysia dan Singapura), bersilat di (Thailand), dan pasilat di (Filipina).

Dalam perkembangannya, silat ini lebih mengutamakan unsur seni dalam penampilan keindahan gerakan, di samping silat juga merupakan olahraga bela diri yang memerlukan banyak konsentrasi. Biasanya setiap daerah di Indonesia mempunyai aliran pencak silat yang khas. Misalnya, daerah Jawa Barat terkenal dengan aliran Cimande dan Cikalong, di Jawa Tengah ada aliran Merpati Putih dan di Jawa Timur ada aliran Perisai Diri.

Di Pamulang sendiri dikenal dengan aliran, “MS Jalan Enam “. Dari mana dan bagaimana aliran silat ini bisa masuk dan berkembang di Pamulang, berikut ini gambaran umumnya.

Semua berangkat dari satu nama besar yakni, “Mandor Jayadi.” Lekaki kharismatik yang dahulunya merupakan Kepala Kemandoran 1 Pemulang ini adalah masih merupakan cicit dari Penguasa Kampung Pemulang jaman dahulu yakni, Ki Rebo.

Pada tahun 1960an, Jayadi remaja yang berprofesi sebagai petani dan pedagang ini sering berkeliling ke wilayah-wilayah Parung dan Depok menjajakan barang dagangannya. Sampai tak terasa nasip mujur yang kemudian mempertemukannya dengan seorang guru besar pendiri Perguruan Silat Jalan Enam di sebuah kampung kecil yang belakangan terkenal dengan sebutan kampung, Pengasinan.

Adalah Uwak Misar Siban, seorang Guru Besar sekaligus pendiri Perguruan Silat Jalan Enam yang sangat disegani warga kampung Pengasinan ini merasa tertarik dengan jiwa dan kepribadian dari Jayadi yang dianggapnya sangat ulet dan cekatan dalam bekerja. Akhirnya pada suatu kesempatan Jayadi diajak oleh sang guru untuk ikut bergabung dalam perguruan silat tersebut. Tak butuh waktu lama bagi dirinya untuk mempelajari jurus demi jurus yang diajarkan oleh sang guru. Berkat ketekunan yang serius dalam waktu yang tak begitu lama Jayadi pun hampir menguasai semua jurus yang diajarkan.

Dan demi untuk mendapatkan ilmu yang berharga tersebut, terkadang dirinya harus rela menginap di rumah sang guru dan baru kembali ke Pamulang setelah seminggu berada di perguruan Silat Jalan Enam Pengasinan. Melihat aktifitas yang demikian serta ketekunan yang ditunjukan Jayadi kepada perguruan Silat tersebut, akhirnya sang guru pun menjodohkan dirinya dengan putrinya yang bernama, Mi’ah.

Setelah menikah dengan putri sang guru, Jayadi mengajak istrinya untuk tinggal dan menetap di Pamulang sambil mengajarkan ilmu bela diri yang diajarkan oleh sang guru. Mulai dari pekarangan rumahnya sampai berkeliling ke rumah-rumah warga terus dirinya lakukan untuk merekrut anggota baru perguruan silat Jalan Enam. Alhasil di era tahun 1970an berdirilah Perguruan Silat MS Jalan Enam di Pamulang yang yang diketuai oleh Jayadi sendiri, meski masih dalam komunitas kecil. Dan karena aktifitas Jayadi yang saat itu di percayakan oleh Lurah Pamulang sebagai Kepala Kemandoran Satu Pamulang, maka dirinya pun sering disapa oleh semua kalangan masyarakat Pamulang dengan panggilan, Mandor Jayadi.

Sebenarnya dalam berlatih silat MS Jalan Enam di Pengasinan, Mandor Jayadi tidaklah sendiri. Beliau ditemani sahabatnya sesama orang Pamulang dari etnis Tiong Hoa yakni, Tjiam Tjeng Poh atau yang akrab disapah dengan Koh To’on. Namun dalam perkembangannya Mandor Jayadilah yang lebih serius mengembangkan perguruan tersebut di wilayah Pamulang ketimbang Koh To’on yang lebih cenderung menggunakannya sebagai penjaga diri semata.

Menurut Mislakhul Akhyar (56) salah satu murid Mandor Jayadi. Gurunya sebetulnya memiliki hubungan kekerabatan yang sangat dekat dengan perguruan silat MS Jalan Enam yang berkembang di wilayah Pondok Benda.

Lelaki yang sering disapa dengan Misar Bewok ini menuturkan kalau istri dari Mandor Jayadi (Mi’ah) adalah merupakan saudara tiri dari H. Dahlan, salah seorang tokoh pendiri Perguruan Silat Jalan Enam di Pondok Benda yang merupakan anak dari guru besar Jalan Enam lain ibu. Maka dengan demikian aliran silat yang ada di Pondok Benda sama akan halnya aliran silat yang berkembang di Pamulang karena berasal dari satu guru yang sama yakni, Uwak Misar Siban di Pengasinan, Depok.

Dalam mempertahankan tradisi budaya lewat Silat Jalan Enam di Pamulang ini agar tak hilang ditelan jaman, murid-murid dari Mandor Jayadi yang terdiri dari Misar Bewok, Supriyadi Bencun, Darmadi, Agus Nawan, Rasidi Ceking, Sukarman dan Usman Abdullah akhirnya pada tahun 2004 silam di Kantor Kelurahan Pamulang Barat mendirikan Organisasi Silat MS Jalan Enam. Pengurusnya pun dikukuhkan oleh Bapak Camat Pamulang saat itu Drs. H. Achmad Taufik, MSi. Dan yang terpilih sebagai ketuanya adalah Sdr.Misar Bewok.

Sampai di sini mungkin sebagian orang bertanya-tanya, apa dan bagaimana sampai perguruan Silat tersebut dinamakan dengan, Jalan Enam.

Secara singkat silat ini merupakan silat khas dari daerah Pengasinan, Sawangan, Depok. Aliran ini banyak tersebar hampir ke seluruh pinggiran Jakarta Selatan dan sekitarnya, termasuk Pamulang dan Pondok Benda.

Menurut Bapak Agus Salim, Ketua Perguruan Pusat MS Jalan Enam Pengasinan yg berkedudukan di kampung Pengasinan, Sawangan: Silat ini diciptakan oleh dua serangkai Uwak Misar dan Siban. Dan yg berkembang di kampung Pengasinan ini adalah silat versi dari Uwak Misar. Sementara pendapat lain mengatakan jika nama Misar dan Siban adalah satu nama yang sama.

Awalnya Jalan Enam Pengasinan bernama ‘MS Jurus Enam ’ dan belakangan berganti menjadi, “MS Jalan Enam” Pengasinan. Ciri khas Silat ini ada pada konsep Jalan Enam yang mana merupakan konsep untuk menjalankan jurus, bertahan dan menyerang.

Istilah Jalan Enam sendiri konon kabarnya merupakan hasil kolaborasi melalui enam orang guru tempat dimana Uwak Misar memperdalam ilmu beladirinya. Dari guru yang berlainan aliran tersebutlah yang kemudian ilmunya disatukan oleh Uwak Misar menjadi aliran baru yang dikenal dengan Jalan Enam.

Bagaimana konsep Jalan Enam itu? Secara garis besar tubuh kita dibagi menjadi tiga area: bawah-tengah-atas. Nah tiga area itu akan dibagi lagi menjadi dua kiri dan kanan atau luar dan dalam yang akhirnya semuanya berjumlah enam area.

Konsep berikutnya adalah Empat Pancer, dimana pergerakan dalam memainkan jurus dan juga dalam pembelaan diri akan bergerak ke empat arah yang dimulai dari suatu titik dan berakhir pada titik yg sama. Dari berbagai macam jurus pada akhirnya akan menjadi satu bentuk formless yang bertumpu pada satu titik.

Konsep lainnya adalah Jaga Pukul, dilarang menyerang lebih dulu, namun jika diserang harus segera mungkin membalas serangan dengan serangan beruntun dan bertubi-tubi. Tangan yang digunakan untuk menangkis harus juga digunakan untuk menyerang.

Dan yang terakhir adalah, permainan yang rapat dengan kombinasi tangkapan dan traping hand yang biasa disebut sebagai Kotek Sambutan.

Adapun syarat dalam mengikuti ilmu beladiri ini, diantaranya :

Yang pertama, Bujur Merah dan Bujur Putih, benda ini merupakan bahan yang melambangkan izin dari orang tua, seperti halnya Bujur Merah dalam artian izin dari seorang ibu dan Bujur Putih merupakan bentuk izin dari ayah. Jika tidak ada kedua hal tersebut, maka seseorang tidak dapat mengikuti pembelajaran ilmu beladiri ini.

Yang kedua, Pisau Raut, pisau raut ini melambangkan hasrat seseorang dalam mempelajari ilmu beladiri dengan artian Semakin diasah pisau tersebut maka akan semakin tajam.

Yang ketiga, Ayam Jago, hewan ini termasuk salah satu dalam pembelajaran ilmu beladiri syarat yang melambangkan kejantanan atau keberanian begitu juga dengan keselamatan.

Bagi perguruan Silat MS Jalan Enam Pamulang, Ayam jago juga diistilakan dengan Ayam Bekakak. Ayam ini yang nantinya akan digabungkan bersamaan dengan syarat lainnya seperti; bubur merah, bubur putih, rujak tujuh rupa. Lalu setelah ayam tersebut dimasak semua hasilnya akan dibagi-bagikan kepada anggota perguruan. Prosesi inilah yang kemudian disebut anggota perguruan dengan istilah ‘rasulan’. Maksud dan tujuan dari ‘rasulan’ itu sendiri adalah mengirimkan salawat kepada baginda Nabi Muhamad saw sebagai suatu pertanda bahwa anggota baru tersebut siap menjadi bagian dari perguruan silat dan berharap mendapatkan restu dari baginda Nabi agar kelak hidupnya bisa berguna bagi agama, bangsa dan negara.

Demikian sekelumit kisah tentang asal muasal perguruan silat MS Jalan Enam di Pamulang. Semoga bermanfaat bagi pembaca.

Penulis: Agam Pamungkas Lubah