Beranda OPINI

Ancaman Cyber Crime di Masa Pandemi Covid-19

705
Kurnia Indah Respati Mahasiswa Program Studi Manajemen, FEB, Universitas Jenderal Soedirman.

Penggunaan internet pasca diberlakukanya kebijakan pemerintah untuk Work From Home (WFH) kian meningkat. Baik aktivitas belajar, mencari  informasi, berbelanja, transaksi perdagangan dan aktivitas lain dilakukan melalui aplikasi berbasis online.

Penggunaan internet dan aplikasi online yang massif tidak hanya membawa dampak positif. Meskipun aktivitas yang dilakukan secara online terdengar mudah, beberapa aktivitas tersebut mengharuskan pengguna mencantumkan data pribadi yang kemungkinan besar bisa disalah gunakan.

Tanpa kita sadari, cyber crime dapat menyerang pada setiap aktivitas yang kita lakukan di internet. Salah satu upaya kejahatan dunia maya yang paling umum adalah phising. Phishing adalah upaya penipuan untuk mencuri informasi rahasia seseorang dengan berpura-pura menjadi organisasi yang sah. Bahkan mesin pencarian yang kita gunakan untuk mencari informasi dapat digunakan sebagai media pencurian informasi.

Hanya melalui mesin pencarian, cyber-criminals melakukan manipulasi dengan menyesatkan pengguna internet ke situs berbahaya atau halaman umpan yang menawarkan antivirus palsu. Ancaman manipulasi mesin pencarian ini juga menjadi kompleks dengan serangan multi-link dimana cyber criminals menautkan halaman yang akan kita buka dengan link yang secara otomatis menghubungkan perangkat pengguna dan malware.

Tidak hanya berpura-pura menjadi mesin pencarian yang dapat dipercaya, aktivitas phising juga berpura-pura dengan mengatasnamakan organisasi seperti bank atau sistem pembayaran seperti paypal. Selain penggunaan mesin pencarian, pencurian informasi juga bisa ditemui di media sosial atau media berkirim pesan seperti email.

Metode yang dilakukan untuk phising melalui pesan email sama dengan metode yang diterapkan pada mesin pencarian, yaitu dengan menautkan link kepada situs berbahaya. Kegiatan phising tersebut dimaksudkan untuk mendapatkan informasi tentang nomor kartu kredit, kata sandi dan informasi penting lainya. Selain mesin pencarian dan media berkirim pesan.

Mayoritas aktivitas yang kita lakukan pasca pandemi Covid-19 sangat bergantung pada aplikasi berbasis online. Kejahatan dunia maya tidak hanya menyerang secara personal, perusahaan pengembang aplikasi berbasis online juga menjadi target tindak kejahatan tersebut. Pencurian data pada level perusahaan disebut Advanced Persistent Threat (APT). Phising yang dilakukan pada tingkat perusahaan atau pemerintahan dilakukan dalam jangka panjang.

Pencurian ini menyalin dokumen perusahaan dimana terdapat data pribadi pengguna aplikasi dan data penting perusahaan yang kemudian dapat diunduh oleh pihak pencuri. Tindakan tersebut merugikan kedua pihak, baik perusahaan maupun pengguna aplikasi tersebut. Kemudian, apa yang dapat kita lakukan sebagai pengguna internet dan aplikasi berbasis online? Langkah-langkah yang dapat dilakukan:

1. Unduh dan Perbarui perangkat lunak anti-virus, alat anti-malware dirancang untuk mendeteksi kode berbahaya dan mencegah pengguna mengunduhnya.

2.  Mengunduh Intrusion Detection Systems (IDS), IDS dapat mengidentifikasi awal serangan DoS dan mengalihkan ke alamat IP lain.

3. Mengunduh Intrusion Prevention Systems (IPS), IPS ini dirancang untuk memblokir alamat IP tertentu yang dianggap berbahaya.

Dengan langkah tersebut, diharapkan pengguna internet dapat terlindungi dari percobaan phising atau tindakan cyber crime. Untuk meningkatkan keamanan lebih lanjut, diperlukan kerja sama pemerintah untuk menerbitkan regulasi terkait tindak kejahatan tersebut. Sehingga dalam situasi yang sangat bergantung pada internet ini, pengguna internet bisa merasa aman dan terlindungi.

Oleh: Kurnia Indah Respati

Mahasiswa Program Studi Manajemen, FEB, Universitas Jenderal Soedirman.