Beranda OPINI

Al Qur’an Memecah Kesunyian Nabi Muhammad

1371
al-quran al karim

SETELAH Al Qur’an turun pada malam Senin 17 Ramadhan tahun 41 dari kelahiran Nabi, di Gua Hira. Nabi tidak pernah lagi kembali ke dalamnya. Fakta sejarah tersebut sangatlah menarik.

Bukankah Nabi, selama berbulan-bulan berkontemplasi (tahannuts) di Gua Hira? Tetapi sejak wahyu pertama turun, Nabi pun keluar dan tak pernah kembali lagi ke dalamnya.

Lalu apa sebenarnya yang mendorong Nabi melakukan tahannuts? Dari siroh Nabi diketahui, kondisi sosial yang carut marut ketika itu, merupakan “pemicu utama” sehingga Nabi melakukan tahannuts.

Jadi ada ‘kegelisahan sosial’  dalam diri Nabi, menyaksikan prilaku masyarakatnya, yang menurut Nabi telah jauh menyimpang. Namun bagaimana “persoalan” itu harus diatasi dan kapan Nabi mulai turun ke lapangan, belum ada petunjuk yang kukuh, yang bisa dijadikan pedoman.

Apa yang dirasakan Nabi itu (kegelisahan sosial), merupakan sisi manusiawi seorang Muhammad bin Abdullah. Artinya, siapapun orangnya, tidak mesti seorang Rasul, asalkan ia masih memberikan ruang gerak kepada nuraninya, akan mengalami perasaan yang sama tatkala menyaksikan “ketidakteraturan social”.

Namun bobot kegelisahan itu berbeda-beda. Ada manusia merasakan itu Cuma sebentar dan kemudian sirna dikalahkan oleh kekuatan Iblis. Ada yang merasakan kegelisahan itu terus-menerus da nada keinginan yang kuat untuk merubahnya pada kondisis yang lebih baik.

Semangat yang demikian adalah semangat para Nabi dan Rasul, kendati ia tidak harus seorang Nabi dan Rasul. Orang seperti itulah pemikir Iran “Ali Shariati” menyandangkan gelar terhormat sebagai “Nabi-nabi sosial”.

Wahyu Pertama dan Kesunyian Nabi Muhammad Saw

Dalam sejarah Islam dibedakan dengan jelas antara Nabi dan Rasul. Seorang Nabi tidak wajib menyampaikan pesan-pesan Ilahi kepada manusia. Dengan kata lain seorang Nabi bergulat ke dalam pribadinya (inward looking). Sedangkan seorang Rasul juga intens berjuang di dunia luar (outword looking).

Muhammad bin Abdullah memadai kerasulannya pada tanggal 17 Ramadhan tahun 610 Milayidyah. Wahyu pertama yang terdiri dari 5 ayat pertama surah Al-Alaq telah “memecah kesunyian Muhammad” sebagai seorang Nabi. Ayat tersebut sekaligus merupakan awal dimulainya “perjuangan nyata” untuk merubah orde sosial yang telah terperosok kemanusiaannya. Meminjam bahasa kontemporer, mulai saat itu Nabi telah melakukan “reformasi sosial” (social reformation).

Apa yang dialami Nabi pada proses tahannuts it adalah “mabuk dengan Tuhan” dan meninggalkan perilaku-perilaku sosial yang mendegradasi nilai kemanusiaan, seperti minum khomar, judi, zina dan menindas orang lain. Agar bisa “mabuk dengan Tuhan” secara tenang dan terhindar dari pengaruh orde sosialnya, Nabi menyendiri di Gua Hira.

Dari sejarah ini terlihat, betapa perjalanan hidup Nabi sarat dengan teori-teori sosial yang sangat berharga. Rahasia tersebut bukan hanya menguatkan kesolehan “Muhammad” sebagai seorang Rasul, tetapi juga amat berharga sebagai petunjuk di dalam hidup.

Melalui perjalanan hidup Rasul kita bisa bercermin, reformasi sosial mengharuskan dua prasyarat umata. Pertama, sebelum memerkenalkan suatu perubahan sosial yang besar, lebih dahulu dipersiapkan landasan yang kuat. Nabi melakukan itu dengan bertahannuts.

Kedua, setiap keputusan yang diambil selalu mempunyai konteks historis. Dengan kata lain sebuah teks Para ulama tafsir menamakannya dengan “asbabunnuzul” (sebab-sebab turunnya ayat).

Landasan yang kuat itu adalah tauhid (unitas). Tauhid dimaksud bukan hanya kepada Tuhan, tetapi juga sosial, dan nilai. Bukankah Nabi sangat intens mengingatkan hal itu. Dalam hadis beliau pernah mengingatkan. “Tidak beriman salah seorang dari kamu sehingga ia mencitai saudaranya, seperti mencintai dirinya”.

Bahkan dalam riwayat hidupnya dikisahkan, saat-saat akhir hayatnya, yang diucapkan Nabi adalah “umatku, umatku, umatku”. Betapa pentingnya tauhid sosial itu. Bukankah “keresahan” Nabi ketika menyaksikan masyarakatnya, juga merupakan perwujudan dari tauhid sosial tersebut.

Kemudian Nabi juga sangat memerhatikan konteks suatu tindakan. Misalnya Nabi bersikap “arif” terhadap seorang Badui, padahal orang itu “buang hajat kecil” di Masjid, karena Nabi mengerti betul konteks perbuatan itu.

Pentingnya perhatian terhadap konteks tindakan dimaksudkan agar tindakan itu tidak a historis. Karena tindakan apapun yang akan diambil perlu dikaji “relasinya” dengan yang lain. Bagaimana pentingnya memertimbangkan relasi atau konteks tindakan bisa disimak dalam ucapan Aisyah ra berikut ini.

“Sesungguhnya yang pertama kali turun ialah surat-surat al-Mufashsal, yang menyebutkan masalah surga dan neraka. Setelah orang-orang yang masuk Islam mantap keislamannya,maka turunlah ayat-ayat mengenai halal dan haram. Seandainya yang pertama kali turun berbunyi, “Janganlah kamu minum-minuman khamar”, niscaya mereka akan menjawab, “Kami tidak akan meninggalkannya selama-lamanya”.

Dan seandainya ayat yang pertama kali turun berbunyi, “Janganlah kami berzina!”, maka mereka akan mengatakan, “Kami tidak akan meninggalkan zina selama-lamanya!”. (DR. H. Imam Muchlas, MA “Al-Qur’an Berbicara, 1996, hal 27 dari as-Suyuti, 1973, 1/42).

Menyinkap Konstruksi Ayat-ayat Pertama

Berbeda dengan “asbabun nuzul” di mana pusat perhatiannya adalah “konteks” maka “tartibun nuzul” (urutan turunnya ayat) perhatiannya diarahkan pada teks demi teks yang datang berurutan. Konstruksi “tartibun nuzul” itu bukanlah sesuatu yang sepi dari makna.

Merujuk kepada bukunya DR. H. Imam Muchlas, MA urutan-urutan wahyu pertama adalah sebagai berikut. Secara berurutan masing-masing adalah surat ke 96, 68, 73, dan 74 (Al-Qur’an Berbicara, hal. 32). Lima ayat pertama suarat 96, Sembilan ayat pertama surat 68, sepuluh ayat pertama surat 73, dan tujuh ayat pertama surat 74.

Fase demi fase turunnya ayat-ayat tersebut, apabila kita cermati dengan jernih sesungguhnya bisa dijadikan pedoman teori sosial dalam rangka reformasi.

Apa yang diperlihatkan Allah pada surat Al-Alaq (96) dan surat Al-Qolam (68) adalah pentingnya membangun pondasi dasar manusia yaitu hati dan pikiran. Kedua-duanya diawali dengan semangat membaca dan menulis (68).

Ayat-ayat pertama surat Al-Alaq mengajak manusia agar mau membaca fenomena yang ada pada dirinya. Hal itu penting agar manusia bereksistensi secara sadar. Manusia menjadi sadar di mana posisinya.

Sementara pada surat Al-Qolam, ajakan kepada manusia agar bersikap “percaya diri” dalam kebenaran. Jangan mudah tertekan karena ejekan manusia, sebab siapa yang “gila” atau “waras” akan ditentukan oleh Allah, bukan manusia.

Setelah itu barulah turun ayat yang berkaitan dengan usaha pencerahan. Artinya, bagaimana memersiapkan diri dalam menyeru manusia. Jadi kalau surat 96 dan 68 berkaitan dengan pembentukan pola pikir dan sikap (teori), maka surat 73 dan 74 berkaitan dengan praktek (aksi).

Simaklah perintah Allah untuk sholat malam, membaca Al-Qur’an secara tartil dan beribadah secara khusyu (surat 73). Pada surat 74, Allah memerintahkan membersihkan pakaian, meninggalkan berbuat dosa, memberi yang tidak ikhlas, dan perintah bersabar.

Menariknya lagi, masing-masing surat itu diawali dengan “wahai orang yang berselimut” (al-Muzammil dan al-Mudattsir). Kendati dengan panggilan yang sama, keduanya berbeda.

Pada surat al-Muzammil penekanannya lebih pada perbaikan ke dalam pribadi (in ward looking). Sedangkan pada surat al-Mudattsir perbikan diarahkan ke luar (out ward looking).

Penutup

Sebagaimana penegasan Al-Qur’an bahwa Muhammad Saw Nabi dan Rasul terakhir (QS :33;40). Namun semangat Kenabian dan Kerasulan itu terus berlanjut. Mereka adalah orang-orang yang gelisah menatap orde sosial yang carut marut, yang bergelimang dengan kemaksiatan dan mereka yang mewarisi semangat itu bertekad untuk merubahnya.

Al-Qur’an memang telah berakhir dan sudah lengkap, tetapi sebagai pedoman hidup Al-Qur’an tidak pernah mentolelir pola hidup yang korup, menindas dan saling menipu. Mewujudkan hidup yang penuh cahaya iman, akhlakul karimah dan gairah terhadap ilmu dan kebenaran merupakan cara terbaik memeringati Nuzulul Qur’an. Semoga.!!!

Ditulis Oleh : Ahmad Dayan Lubis, Alumni HMI Cabang Jakarta, pernah belajar di Pesantren Subulus Salam Kotanopan.